Minggu, 23 Mei 2021

Jodohku Milik Orang Bab. 3 Tidur Panjang

“Bu kasihan sekali yah nasib kak Fatimah, habis cerai dan sekarang mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya.” Kata Fatih yang menunduk menahan pilu di hati, menyaksikan keadaan kakak nya sekarang. 

“Kita berdoa saja pada Allah, minta yang terbaik tuk kakak mu, supaya dia senantiasa di beri kemudahan dalam menjalani hidup nya.” Ucap ibu sedih. 

“Aamiin.” Jawab bapak dan Fatih

🌹🌹🌹
Dua hari sudah berlalu, tapi tidak ada perkembangan tentang keadaan Fatimah, keluarga nya pun mulai panik dan bertanya-tanya akan apa yang terjadi.

Setelah dokter memeriksa keadaan Fatimah, dokter memanggil adik Fatimah keluar dari ruang perawatan

“Dokter bagaimana keadaan kakak saya, kata dokter kemarin keadaan kakak saya mulai stabil dan sudah bisa di pindah kan ke ruang rawat inap, tapi kenapa kakak saya belum sadarkan diri?” Fatih bertanya dengan keadaan yang gusar. 

“Maaf sebelumnya, seperti nya pasien mengalami koma, karna dari tes Skala Koma Glasgow  yang kami lakukan, pasien menunjukkan tanda-tanda tersebut.” Jelas Dokter

“Apa dok?!
kakak saya mengalami koma!! Jadi kapan  kakak saya akan sadar dok?”
Fatih terkejut atas penuturan dokter yang menangani Fatimah.”

“Tidak bisa di pastikan kapan pasien akan sadar, tapi kita serahkan saja kepada Sang pemilik kehidupan, kami akan berusaha melakukan yang terbaik tuk kesembuhan pasien, kalau begitu saya permisi dulu.” Kata sang dokter sambil mengulas senyum ramah. 

*Sekilas info*

Skala Koma Glasgow adalah skala neurologi yang dapat digunakan untuk menilai tingkat kesadaran. Skala ini umumnya digunakan untuk menilai kesadaran setelah cedera kepala. Ada tiga komponen yang dinilai dalam skala ini yaitu mata, verbal, dan motorik.

Skala Koma Glasgow atau Skala Glascow Koma adalah skala neurologis yang bertujuan untuk memberikan penilain kesadaran yang terpercaya, objektif dalam menentukan kondisi kesadaran dari seseorang yang berguna untuk menentukan diagnosa selanjutanya.

*info off*

Fatih pun memberitahukan, bahwa sang kakak mengalami koma kepada kedua orang tua nya, Ibunya pun langsung terduduk lemas di samping brankar tempat Fatimah terbaring.

“Ya Allah nak, kenapa ini bisa terjadi.” Kata Ibu Fatimah yang sudah berurai air mata. 

“Kita harus sabar Bu, Allah memberikan cobaan kepada hamba-Nya tidak kan melebihi batas kemampuan hamba-Nya itu sendiri, kita hanya bisa mendoakan yang terbaik tuk Fatimah, semoga dia cepat sadarkan diri.” Ucap Bapak yang berusaha menenangkan istri nya yang masih menangis sambil membelai lembut pipi Fatimah. 

“Iya Pak, Ibu cuma masih kaget saja dengan kenyataan ini.” Kata Ibu masih kaget dengan apa yang terjadi. 

“Bu, Pak, Fatih akan mengabari kak Fahril dulu.” Ucap Fatih dan langsung melangkah keluar dari ruang rawat Fatimah. 

“Iya nak, kabari lah nak Fahril, dia juga perlu mengetahui keadaan Ibu dari anak nya.” Ucap bapak mengizinkan. 

Setelah mengetahui keadaan Fatimah dari Fatih, Fahril dan Humaira langsung menuju ke rumah sakit, tak lupa mereka juga mengajak Alif. 

“Assalamu'alaikum.” Ucap Fahril dan Humaira bersamaan saat melangkah masuk ke ruang rawat Fatimah. 

“Waalaikumussalam, masuk nak.” Jawab Ibu dan menyuruh mereka masuk. 

“Bagaimana keadaan Fatimah, Bu?” Fahril bertanya dengan raut wajah sedih. 

“Fatimah mengalami koma dan dokter juga tidak tahu, kapan Fatimah akan sadar.” Jawab ibu yang tak kalah sedih. 

“Apa Bu! Jadi kak Fatimah mengalami koma?” Tanya Humaira, dia terkejut dengan penuturan Ibu yang menyatakan Fatimah koma. 

Alif naik ke tempat tidur sang Ibu dan membelai pipi Fatimah dengan tangan mungil nya

“Ammi cepat bangun ya dali tidul panjang ini, Alif mau main sama ammi lagi, hiks hiks.” Gumam Alif tapi masih bisa di dengar oleh semua orang yang ada di ruangan itu. 

“Kita doakan Ammi ya sayang, supaya Ammi di beri Allah kekuatan tuk sehat lagi” Bujuk Humaira sambil memegang tangan Alif dan membelai pipi Alif. 

“Iya Ummi, Alif kan minta sama Allah, supaya Allah mau beli kecembuhan tuk Ammi.” Alif berkata sambil tersenyum menghadap Ummi nya. 

🌹🌹🌹 
Satu minggu berlalu, tapi belum ada tanda-tanda Fatimah akan sadar, keluarga masih terus sabar menanti kesembuhan Fatimah. 

**
“Assalamu'alaikum dek, apa Fatimah masih tinggal di sini?” Tanya seorang lelaki yang sudah paruh baya. 

“Waalaikumussalam, Iya masih Pak, tapi sudah hampir satu minggu ini kakak saya berada di rumah sakit.” Kata Fatih menjelaskan kepada seseorang yang bertanya tadi. 

“Kenapa nak Fatimah berada di rumah sakit?  Kalau boleh saya tau anda ini siapa nya nak Fatimah?”  Sang Bapak bertanya kepada Fatih. 

Saya ini adik nya Kak Fatimah, dan kakak saya mengalami kecelakaan satu minggu yang lalu, sekarang sedang koma di rumah sakit.” Tutur Fatih

Bapak itu pun terkejut, tapi masih berusaha tetap biasa-biasa saja. 

“Apa saya boleh tau, di rumah sakit apa nak Fatimah di rawat?” Tanya sang Bapak ke pada Fatih. 

“Boleh Pak, mari bareng saya saja, soal nya saya juga mau ke sana, untuk gantian sama Ibu menjaga kakak saya.” Fatih. 

Si Bapak binggung, mengapa bukan suami Fatimah yang menjaga nya, dan tak ingin menduga-duga akhirnya sang Bapak bertanya. 

“Lah memang nya suami kakak kamu mana? Tapi maaf jika pertanyaan saya ini lancang.” kata sang Bapak tak enak hati, karna melihat wajah Fatih yang tiba-tiba sedih. 

“Ngak apa-apa Pak, kakak saya sudah bercerai sama suami nya sekitar satu bulan yang lalu.” Tutur Fatih menjelaskan perihal yang terjadi. 

“Oh begitu cerita nya, mari naik mobil saya saja, kita lanjut cerita dalam perjalanan saja.” Ajak sang Bapak yang di angguki oleh Fatih. 

Di sepanjang perjalanan, Fatih menjawab semua pertanyaan seputar Fatimah, akhir nya sang Bapak paruh baya tadi tau sebab perceraian Fatimah dan penyebab kecelakaan nya. 

“Lalu bagaimana keadaan orang yang  menabrak Fatimah?” Tanya bapak itu lagi. 

“Orang yang menabrak kak Fatimah meninggal saat dinperjalanan menuju rumah sakit dan kami juga sudah berdamai dengan keluarga orang yang menabrak kakak saya.” Fatih menjelaskan dengan sangat detail, sehingga tak ada yang terlewat. 

🌹🌹🌹
“Assalamu'alaikum Bu, ada orang yang mau menjenguk kak Fatimah.” Fatih. 

“Waalaikumussalam, siapa nak? Mana orang nya kok tidak di ajak masuk?” Ibu. 

“Kata nya tadi dia mau menemui dokter yang bertanggung jawab merawat kak Fatimah.” Fatih. 

“Assalamu'alaikum.”

“Walaikumussalam.” Jawab Fatih dan juga Ibu bersamaan. 

“Nah, ini orang yang ingin menjenguk kakak Bu.” Fatih. 

“Bapak ini siapa ya?  Ada urusan apa Bapak mencari anak saya?”  Tanya ibu tiba-tiba. 

“Saya Wijaya Pragupta, orang yang pernah di tolong anak Ibu, tiga bulan lalu.” Jawab pak Wijaya. 

*flasback on*

Tiga bulan lalu

Fatimah melihat lelaki paruh baya tengah kesakitan di depan rumah nya, dan Fatimah langsung menghampiri Bapak itu

“Assalamu'alaikum, Bapak kenapa, kok kayak orang yang lagi di kejar kejar sesuatu?” Tanya Fatimah kepada Bapak itu, ya Bapak itu adalah Pak Wijaya. 

“Waalaikumussalam, Saya memang lagi di kejar kejar orang nak, mereka ingin membunuh Bapak, tolong Bapak nak.” Mohon Pak Wijaya. 

“Mari Pak, lebih baik Bapak sembunyi di rumah saya, tuk sementara waktu.” Kata Fatimah simpatik terhadap Pak Wijaya. 

“Terimakasih nak, sudah mau membantu Bapak dan maaf telah melibatkan kan kumu dalam masalah Bapak. ” Pak Wijaya. 

“Sesama mahluk sosial kita harus tolong menolong Pak, dan tidak usah sungkan Pak, saya ihklas kok membantu Bapak, semoga Allah memberi perlindungan untuk kita semua.” Fatimah berkata sambil tersenyum tulus. 

“Terimakasih nak.” Pak Wijaya. 

*Flashback off*

“Saya ke sini ingin balas budi pada anak Ibu, dan sekalian saya ingin mengangkat anak Ibu menjadi putri angkat saya, saya juga berniat akan memindah kan Fatimah ke rumah sakit saya yang ada di kota, itu pun jika Ibu dan kluarga berkenan.” Jelas pak Wijaya panjang lebar. 

“Saya dan keluarga tidak keberatan kalau Bapak ingin  mengangkat anak saya, sebagai putri angkat anda, tapi kalau soal di pindah ke rumah sakit  yang ada di kota, kami akan sulit tuk menjenguk nya nanti.” Ibu berturur lemah karna merasa sedih dan akan sulit tuk menjeguk Fatimah jika di pindah kan.

“Ibu tenang saja, soal itu saya akan menyediakan kendaraan untuk Ibu beserta keluarga supaya bisa menjeguk Fatimah, lagi pula kalau di pindah kan kerumah sakit saya, perawatan nya akan lebih maksimal dengan peralatan yang lengkap dan modern, InsyaAllah penyembuhan nya juga akan lebih maksimal.” Jelas Pak Wijaya dengan mantap berusaha menyakinkan keluarga Fatimah. 

“Tapi...”

Belum selesai Ibu dengan kata-kata nya, langsung di potong oleh pak Wijaya. 

“Saya tidak memaksa Bu, tapi ini juga demi kebaikan Fatimah, Anda bisa bicarakan ini dulu dengan suami Ibu, saat ini kita hanya bisa melakukan hal yang terbaik.” Tutur Pak Wijaya, berusaha menyakinkan Ibu nya Fatimah. 

“Baik Pak, saya akan bicara kan ini dulu degan suami saya.” Tutur Ibu sedih, tapi merasa ada harapan untuk sang putri. 

🌹🌹🌹

Fatimah sudah di pindah kan ke rumah sakit Pak Wijaya, di sana Fatimah mendapat perawatan terbaik, walau pun segala cara sudah di lakukan, tapi masih belum ada perkembangan.

Bagaimana keadaan Fatimah selanjutnya apa mungkin dia masih bisa selamat atau malah sebaliknya? 

Tunggu kelanjutan nya di “Jodohku Milik Orang”.
Bab Berikutnya
First

0 komentar: