Sabtu, 26 Juni 2021

Jodohku Milik Orang Bab. 19 Penolakan Fatimah

Kalau cinta hanya sebatas “DUNIA” 
Kau tak akan pernah merasakan “KETULUSAN HATI” yang sebenarnya
Hanya “HATI” yang dipenuhi oleh “CINTA”
Yang dapat menjangkau “LANGIT TERTINGGI”
(Jalaludin Rumi)

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

Tuhan sudah menentukan diri kita untuk siapa???
Tuhan juga sudah menentukan jalannya seperti apa???
Yang perlu kita lakukan hanya “IKHLAS”
Menerima & mengikuti tanpa mencari yang salah. 
Dan yang terpenting rapikan hati agar tidak berantakan lagi😄

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

Tidak terasa sudah enam bulan Fatimah berada di pesantren dan beberapa hari lagi Fatimah akan pergi dari sana guna untuk melanjutkan studinya yang belum sempat ia selesaikan.

“Assalamu'alaikum Kiai” Fatimah.

“Wa'alaikumussalam Fatimah, mari masuk nak!” Kiai Abdullah mempersilakan Fatimah untuk masuk ke kediamannya.

“Iya Kiai.”

“Ada apa nak?”

“Saya mau pamitan Kiai, insyaallah besok saya akan brangkat, untuk melanjutkan studi saya yang belum sempat saya selesaikan di Jakarta.”

“Jadi besok kamu jadi berangkat nak?” Tanya Kiai Abdullah yang sudah mengetahui rencana Fatimah namun dia tidak tau kalau besok Fatimah akan berangkat. “Apa kamu sudah berpamitan dengan Fatma dan yang lain nya?”

“Kalau dengan yang lain nya saya sudah berpamitan, tapi dengan Fatma dan mas Sultan belum Kiai, rencana nya hari ini saya akan berpamitan.” Fatimah menjelaskan dengan lugas dan tersenyum ramah kepada Kiai Abdullah.

“Ya sebaik nya kamu berpamitan kepada mereka!” Perintah Kiai Abdullah kepada Fatimah.

“Iya Kiai.”

“Eh ada nak Fatimah, sudah lama nak?” Tanya Ummi yang baru datang dari dalam rumah.

“Iya ummi, Fatimah belum lama datang nya.”

“Oh ya Fatimah ummi boleh bertanya tidak?”

“Silahkan ummi, Fatimah akan menjawabnya jika Fatimah mampu tuk menjawab.” Fatimah menjawab dengan serius, tapi tetap dengan senyuman manis nya.

“Kamu kenapa nolak Sultan? Maaf kalau ummi lancang, tapi menurut ummi Sultan itu cocok untuk kamu.”

Fatimah terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan ummi. 

“Maaf ummi, tapi Fatimah menolak mas Sultan karna Fatimah belum siap untuk memulai berumah tangga kembali, jujur saya masih sedikit trauma atas apa yang pernah menimpa saya.” Jelas Fatimah mantap sambil memandang ummi dengan tatapan senduh.

“Jangan lama-lama menjanda nak, tidak baik untuk kamu jangan sampai menimbulkan fitnah.” Ummi memberi wejangan kepada Fatimah, karna menurut nya sudah ada calon yang baik kenapa tidak disegerakan untuk menjalin niat yang baik dan menghindari fitnah, karna fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.

**Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَا قْتُلُوْهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوْهُمْ وَاَ خْرِجُوْهُمْ مِّنْ حَيْثُ اَخْرَجُوْكُمْ وَا لْفِتْنَةُ اَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ۚ وَلَا تُقٰتِلُوْهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَـرَا مِ حَتّٰى يُقٰتِلُوْكُمْ فِيْهِ ۚ فَاِ نْ قٰتَلُوْكُمْ فَا قْتُلُوْهُمْ ۗ كَذٰلِكَ جَزَآءُ الْكٰفِرِيْنَ

waqtuluuhum haisu saqiftumuuhum wa akhrijuuhum min haisu akhrojuukum wal-fitnatu asyaddu minal-qotl, wa laa tuqootiluuhum 'ingdal-masjidil-haroomi hattaa yuqootiluukum fiih, fa ing qootaluukum faqtuluuhum, kazaalika jazaaa-ul-kaafiriin

"Dan bunuhlah mereka di mana kamu temui mereka dan usirlah mereka dari mana mereka telah mengusir kamu. Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Dan janganlah kamu perangi mereka di Masjidilharam kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu, maka perangilah mereka. Demikianlah balasan bagi orang kafir."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 191)

*Karna fitnah itu termasuk perbuatan musyrik yang dosa nya lebih besar dari pembunuhan.**

“Iya ummi, Fatimah paham dengan ke kawatiran yang ummi rasakan, tapi saya tidak ingin menjadi duri di dalam daging yang bisa menghancurkan segalanya. Dengan cara saya menerima pinangan mas Sultan.” Fatimah tertunduk lesu karna teringat dengan kejadian beberapa bulan yang lalu, lebih tepatnya satu bulan yang lalu.

“Memang nya apa yang kamu kawatir kan Fatimah, apa karna masalah sebulan yang lalu?” Ummi menatap sendu kepada Fatimah. “Walaupun dengan adanya kejadian itu kalau sudah jodoh apa pun tak kan bisa menghalangi, yakinlah kepada Allah nak, mohon petunjuk kepada-Nya insyaallah, Allah akan membantu.” Ummi merasa prihatin kepada Fatimah, karna dari dulu dia lebih mementingkan orang lain daripada dirinya, walau kadang keputusan nya membuat seseorang kecewa, tapi dia yakin semua itu akan membuat orang bahagia atas keputusan nya, dan terbukti sampai saat ini keputusan yang dia ambil selalu baik tuk orang yang bersangkutan.

Fatimah hanya menunduk, sebelum dia menjawab pertanyaan dari ummi yang serasa berat bagi nya tuk sekedar menjawab, padahal dia sudah tau jelas jawaban dari pertanyaan ummi, dia berusaha supaya tidak menyakiti perasaan ummi.

Fatimah menarik napas panjang lalu membuangnya perlahan sebelum menjawab pertanyaan ummi.

“Fatimah sudah berserah diri dan memohon petunjuk ke pada Allah, dan Fatimah juga sudah melakukan shalat istikharah ummi. Allah mengirim kan pentunjuk Nya melalui mimpi saat Fatimah selesai melaksanakan shalat istikharah ummi, Fatimah yakin atas petunjuk itu karna menurut Fatimah itu lah yang terbaik tuk kami semua.” Fatimah berucap lembut berusaha menyakinkan ummi tanpa menyakiti perasaan ummi, dia juga selalu tersenyum manis di setiap tutur kata nya.

“Baik lah kalau itu adalah keputusan kamu, saya dan ummi akan tarima apalagi kamu sudah melakukan shalat istikharah memohon petunjuk pada-Nya.” Kali ini Kiai Abdullah angkat bicara setelah cukup lama menjadi pendengar setia, antara ummi dan Fatimah.

Fatimah menoleh dan mengucapkan terimakasih sambil tersenyum ramah kepada Kiai Abdullah dan Ummi.

“Terima kasih Kiai dan ummi yang telah mengerti akan keadaan saya.

🌹🌹🌹

Fatimah lalu kembali ke kamar asrama nya, setelah berpamitan kepada semua orang tanpa terkecuali, karna besok pagi dia sudah harus berangkat ke kota Jakarta guna melanjutkan studi nya yang sempat tertunda.

Fatimah termenung di dalam kamar, dia mulai teringat kembali akan kejadian sebulan yang lalu dan memutuskan tidak menerima pinangan Sultan.

*Flashback on*

“Assalamu'alaikum mbak.”

“Walaikumsalam Amel, sini masuk.” Ajak Fatimah kepada Amel.

“Iya mbak.”

“Ada apa Amel, tumben mau nemuin mbak di sini? Pasti ada yang sangat penting ya sehingga kamu kesini, biasa nya kan gitu.” Fatimah tersenyum karena mengingat jika Amel ke sini pasti ada hal yang penting saja, karna itu lah kebiasaan Amel, walau kadang datang hanya tuk bermain, tapi ya keseringan saat penting saja.

“Mbak tau aja kalau ada yang penting, ini menyangkut mas Sultan yang mau melamar mbak, tapi saya sarankan mbak tidak usah menerima nya.”

“Memang nya kenapa Amel, apa ada alasan lain sehingga kamu menyuruh mbak menolak, tidak mungkin kamu bicara seperti itu tanpa ada alasan yang benar.” Jawab Fatimah sembari tersenyum dalam menanggapi omongan Amel.

“Gini ya mbak sebenarnya ada orang yang dari dulu sampai saat ini yang mengharapkan bisa menikah sama mas Sultan, tapi dia tak berani dan hanya menyelipkan nama mas Sultan di dalam setiap do'a nya, aku takut dia akan berbuat hal-hal yang bodoh karna mendengar kabar bahwa mas Sultan mau mempersunting mbak Fatimah.” Jelas Amel panjang lebar denga mimik wajah serius.

“Oh jadi itu yang kamu kwatir kan” Fatimah pun tersenyum menanggapi perkataan Amel “Kamu tenang saja, teman mu itu tak kan berbuat hal-hal bodoh, karna mbak sudah menolak mas Sultan dan mbak juga sudah bertemu dengan teman mu yang kau maksud tadi.”

“Jadi mbak sudah tau siapa orang yang menyukai mas Sultan?!” Tanya Amel antusias. 

Fatimah mengangguk dan tersenyum kepada Amel, yang dianggap nya sangat lucu saat sedang berbicara serius dan langsung di sambut dengan ekspresi kaget nya yang agak berlebihan menurut orang yang melihat nya. 

“Yang benar mbak, mbak tidak bohong kan?!” Masih dengan ekspresi keterkejutan nya. 

“Iya mbak serius, bahkan mbak juga sudah memberi tahu Kiai Abdullah tentang hal ini dan menyarankan pada Kiai supaya menjodohkan mas Sultan dan Novia, karna yang mbak lihat Novia itu orang nya pantas untuk berdampingan dengan mas Sultan.”

“Jadi kapan Novia menemui mbak, trus kapan mas Sultan melamar mbak dan kapan mbak bicara sama Kita Abdullah?” Rentetan pertanyaan yang diucapkan dalam satu tarikan napas. 

Sebelum menjawab pertanyaan Amel, Fatimah hanya menggeleng dan tersenyum melihat tingkah Amel yang bertanya begitu banyak, tapi hanya dia lakukan dalam satu kali tarikan napas. 

“Kamu itu ya, kalau bertanya satu-satu, trus apa tidak susah bicara dalam satu kali tarikan napas begitu?”

Amel hanya cengegesan mendengar ucapan Fatimah. 

***

Apa ya kira-kira jawaban Fatimah? 

Terus ikuti kelanjutan cerita nya ya di “Jodohku Milik Orang”

Jumat, 18 Juni 2021

Jodohku Milik Orang Bab. 18 Kegalauan Fatma

“Iya bang, abang juga hati-hati di negri orang, jangan lupakan shalat, jaga juga iman mu bang.” Tutur Fatimah dengan senyuman yang mengembang indah di wajah nya, siapa pun yang melihat nya akan terpesona. 
“Insyaallah abang akan ingat pesan kamu, semoga kamu berhasil dengan cita-cita yang kamu impikan dan semoga kamu sukses dunia wal akhirat, aamiin.” Ucap Ardhan tulus. 

“Aamiin, semoga abang juga sukses dunia wal akhirat.”

“Aamiin”


***


Kini tinggal la Fatimah di pesantren Kiai Abdullah, sedangkan Ardhan telah kembali pulang dan bahkan telah terbang ke luar negri untuk mengurus perusahaan  nya yang ada di sana.

Hari-hari di lalui Fatimah bersama para santriwati. Saat siang dia mengajar kan keterampilan menjahit, membuat pola, membuat beraneka macam keahlian di bidang nya yang lain. Dan saat malam tiba Fatimah akan mengajar kan Barzanji dan cara membaca Al-Quran yang benar.

Begitu lah rutinitas yang di jalani Fatimah ketika di pesantren, terkadang dia juga akan pergi ke pasar bersama para santriwati untuk membeli kebutuhan di pesantren. Seperti saat ini dia sedang berbelanja bersama dua orang santriwati.

“Mbak kita ke pasar hari ini mau beli apa aja mbak?” Tanya salah satu santri yang ikut bersama nya

“Kita mau membeli kebutuhan dapur untuk para santriwan dan santriwati.”

“Lumayan banyak juga ya mbak belanja kita hari ini, pantasan mbak ngajak santriwan.”

Fatimah hanya tersenyum menanggapi ucapan salah satu santriwati yang ikut bersamanya. 

Setelah berbelanja Fatimah bertemu salah satu pengajar di pesantren. 

“Assalamu'alaikum ukhti!”

“Waalaikumsalam ya akhi.”

“Butuh bantuan tidak?”

“Kalau ingin bantu silahkan akhi.”

“Iya mas kalau mau bantu, ya bantu aja tidak usah basa basi.” Jawab salah satu santriwati yang bersama Fatimah

“Eh kenapa bicara begitu, tidak boleh bicara seperti itu apa lagi kamu perempuan yang seharusnya bersikap lebih sopan dan bertutur lembut , ayo Amel minta maaf sama mas Sultan!” Perintah Fatimah kepada salah satu santriwati yang ikut bersama nya. 

“Hehehe maaf ya mas Sultan, Amel cuma bercanda kok.” Ucap Amel yang malu-malu dan menyesal terhadap perbuatan nya sendiri. 

*Gini ya man teman, kalo lagi ngajar di pesantren para santri akan menanggil ustdz atau ustadzah, tapi jika itu di luar jam pelajaran para santri akan memanggil mbak atau mas, karna kebanyakan tenaga pengajar yang mengajar adalah alumni pesantren Kiai Abdullah.

“Tidak apa-apa Fatimah, Amel memang begitu suka bercanda.” Sultan mencoba menjelaskan kepada Fatimah supaya dia tidak marah. “Dan untuk Amel saya sudah memaafkan jangan di ulangi lagi kalau ingin bercanda coba lihat situasi dulu oke!” Sultan juga berusaha mengingatkan Amel supaya tidak salah langkah dalam hal berbicara. 

“Iya mas, oh ya mas ada keperluan apa ke sini?” Tanya Amal kepada Sultan. 

“Hanya kebetulan lewat saja dan tak sengaja melihat kalian disini.”

“Oh...”

“Mari saya bantu.” Tawar Sultan kepada Fatimah dan yang lain nya. 

***


Saat ini Fatimah sudah berada di pesantren Kiai Abdullah.
Fatimah kembali ke asrama khusus guru setelah membantu di dapur pesantren.

“Akhir nya selesai juga, lebih baik menelpon Alif.” Fatimah bergumam tanpa ada yang mendengar nya. 

*Telpon tersambung

📲 “Assalamu'alaikum mbak”

📱“Waalaikumsalam Humairah, bagaimana kabar mu dan keluarga di sana?”

📲“Alhamdulillah  kami semua sehat mbak, keadaan mbak di sana bagaimana?”

📱“Alhamdulillah keadaan mbak juga sehat.”

📲“Syukur lah kalau begitu mbak.”

📱“Em...
Humairah, Alif ada di sana atau tidak, kenapa tidak kedengaran suara nya ya?”

📲“Oh Alif lagi keluar sama mas Fahril, baru saja keluar nya mbak.”

📱“Ya sudah kalau begitu, mbak titip salam aja buat Alif, kamu juga jangan terlalu capek, harus cukup istirahat ya!”

📲“Iya mbak nanti aku sampaikan salam dari mbak untuk Alif, makasih atas perhatian nya mbak”

📱“Iya sama-sama Humaira, mbak tutup dulu telpon nya assalamu'alaikum.”

📲“Waalaikumussalam mbak.”

*Telpon terputus

Di sisi lain di waktu yang bersamaan di rumah Abizar dan Fatma.
Mereka sudah pindah kerumah mereka sendiri yang tak jauh dari pesantren

“Sayang, mas boleh nanya tidak?” Abizar bertanya sambil duduk di sisi istri nya. 

“Mau nanya apa mas?” Fatma balik bertanya sambil menoleh kepada Abizar

“Fahril sama Fatimah kok bisa bercerai, padahal yang aku tau si Fahril kan sangat cinta sama Fatimah” Tanya Fahril yang penasaran sekaligus binggung kenapa bisa terjadi hal yang seperti itu. Memang perceraian adalah hal yang diperbolehkan dalam agama Islam,  tapi perceraian adalah perbuatan halal yang sangat di benci oleh Allah. 

“Awal nya mas Fahril menikahi wanita lain selagi dia bersama Fatimah.”

“Kok bisa, tapi rasa nya tidak mungkin Fahril melakukan itu tanpa alasan yang kuat, sedangkan dia tau dan tentu nya masih ingat dengan perjanjian nya bersama Fatimah?!” Abizar masih merasa binggung dengan kejadian antara Fatimah dan sahabat nya itu. 

Akhirnya Fatma menceritakan semua, dari awal kejadian sampai perpisahan sahabatnya itu, bahkan waktu Fatimah koma karna kecelakaan.

“Jadi Fatimah pernah kecelakaan Yang?”

“Iya waktu itu aku masih berada di luar negri, aku tau cerita itu pun sewaktu Fatimah kembali ke pesantren saat aku juga baru pulang dari Kairo.” Fatma bercerita dengan tatapan sendu mengingat musibah yang menimpa sahabat nya dan dia tidak ada di sana saat Fatimah membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekat nya. 

“Sudah jangan sedih gitu dong, semua kejadian itu pasti ada hikmah nya, kita do'a kan saja yang terbaik tuk Fatimah, semoga dia segera mendapat kan kebahagiaan yang layak untuk diri nya.” Abizar mencoba menenangkan Fatma dengan menarik Fatma kedalam pelukan nya

“Hm...
Mas jangan sampai kejadian itu trjadi kepada kita ya mas, walau aku tak akan minta cerai kepada mu seandainya kau menikah lagi, tapi aku masih tidak kan sanggup seandainya aku kau madu.” Fatma terisak di dalam pelukan Abizar. O

“Hei kenapa kamu bicara seperti itu, insyaallah aku tak akan begitu” Abizar menarik tubuh Fatma dari dekapan nya dan menangkup pipi Fatma dengan kedua tangan nya dan mengusap air mata Fatma dengan jempol tangan nya

Fatma hanya menganggukkan tanda mengerti dengan ucapan Abizar. 

“Insyaallah aku berjanji tidak akan seperti itu dan tak kan sembarangan menyentuh wanita selain diri mu” Abizar berusaha meyakinkan Fatma bahwa dia akan lebih berhati-hati terhadap dengan yang namanya wanita

“Iya aku percaya sama kamu mas, ana uhibbuka ya zawji (aku mencintaimu suami ku)” Fatma kembali memeluk Abizar. 

“ana aydaan uhibbuka ya zawjati (aku juga mencintaimu istri ku.” Abizar membalas pelukan Fatma. 

***


Tiada kata yang indah untuk mengungkapkan rasa sayang dan cinta selain dengan kejujuran dan keiklasan. Rumah tangga memang harus ada rasa cinta selain itu kejujuran, kesetiaan, saling percaya dan rasa ikhlas juga harus ada. Jadi lah setegar karang walau di terjang ombak dan badai masih tetap berdiri tegak, jadilah tegar di hadapan orang walau hati terluka. Walau tak mampu seperti karang di tengah lautan, tapi harus tetap tunjukkan bahwa diri mu mampu, berserah diri pada Tuhan jangan  berserah diri pada orang yang belum tentu bisa mengerti kamu.

***

Terus staytune ya manteman semua, karna perjalan cinta Fatimah masih terus berlanjut. 


Jodohku Milik Orang Bab. 17 Melanjutkan Hidup

“Ya ukhti ku ternyata bisa malu juga, tidak apa-apa ukhti, kan mas Abizar sudah sah menjadi suami kamu, tapi kalau belum sah aku adalah salah satu orang yang memarahi kamu.” Goda Fatimah sambil memelotot kan mata nya. 

Mereka saling berpelukan, dan tanpa di suruh air mata Fatimah dan Fatma mengalir di pipi mulus mereka. 

“Ternyata kamu orang yang periang Fatimah, aku baru sadar dengan sifat mu yang seperti ini dan aku juga senang melihatmu begitu bahagia hari ini, walau ku tau kau menyimpan luka mu bersama dengan senyum mu.” Gumam Ardhan di dalam hati dan terus memperhatikan Fatimah dalam diam nya. 

Setelah berpelukan dan tangis-tangisan, Fatimah turun dari atas panggung, saat turun dia berpapasan dengan Fahril dan Humairah. 

“Assalamu'alaikum mbak, apa kabar?” tanya Humairah sembari memeluk Fatimah yang langsung di balas oleh Fatimah. 

“Waalaikumsalam, alhamdulillah keadaan ku baik, kamu apa kabar Humairah?” Tanya Fatimah sembari merenggang kan pelukan nya pada Humairah. 

“Alhamdulillah kabar ku juga baik mbak.” Jawab Humairah yang kini saling berhadapan dengan Fatimah. 

“Oh ya sudah berapa bulan kandungan kamu, janin nya sehat kan?” Fatimah bertanya sambil tersenyum dengan sangat manis kepada Humairah. 

“Sudah 16 minggu mbak, alhamdulillah janin nya sehat mbak.” Humairah merasa senang melihat Fatimah yang sudah mulai menerima nya dan Humairah juga senang karna tak pernah sekalipun Fatimah menyinggung perasaannya, malahan Fatimah sangat menjaga perasaan nya walaupun dia tahu Fatimah memendam kesedihan nya di dalam hati dan pikiran. 

“Jaga kesehatan, asupan gizi di jaga, jangan kecapean, tidur juga harus teratur dan jangan lupa kontrol kandungan mu setiap bulan atau saat ada keluhan, jangan... ” Belum selesai Fatimah mewanti-wanti, Humairah sudah memotong ucapanya

“Mbak, mbak ternyata orang nya sangat pehatian ya, makasih mbak atas perhatian nya, Humairah pasti akan ingat dengan ucapan mbak.” Humairah kembali memeluk Fatimah dengan rasa sayang dan merasa sangat beruntung bisa mengenal Fatimah. “Terimakasih mbak, mbak telah hadir dalam hidup ku, telah mengisi nya dengan kasih sayang seorang saudara yang telah lama kurindukan sejak kematian kakak ku yang terdahulu, terimakasih mbak walau dengan sengaja ataupun tanpa sengaja ku telah menyakiti hati mu, tapi kau tetap memperhatikan dan menerima ku dengan sangat baik.” Humairah berkata lirih dan menahan tangis supaya air matanya tidak jatuh. 

Fatimah melerai pelukan nya “Jangan bicara begitu, mbak tidak mau lagi mendengar kamu bicara seperti itu, jangan mikir macam-macam tidak baik untuk mu dan dia yang ada di dalam sini.” Fatimah berkata sambil mengusap lembut perut Humairah. 

“Iya mbak maaf kan aku.”

“Tidak perlu selalu minta maaf, karna mbak sudah menganggap kamu sebagai adik mbak sendiri.” Fatimah berkata dengan tulus. 

*Jarak umur Fatimah dan Humairah berjarak dua tahun ya man teman, jadi wajar kalau Fatimah menganggap Humairah sebagai adik nya.

Humairah menatap lekat-lekat mata Fatimah, berusaha mencari kebohongan di dalam nya, tapi tak ia temukan yang dia rasa dan lihat hanya ketulusan dari seorang Fatimah.

Dari tadi Fahril hanya memperhatikan kedua wanita yang ada di hadapan nya itu, yang satu pernah sangat ia cintai dan yang satu nya mulai ia cintai. 

“Kau tak pernah berubah Fatimah, masih seperti dulu, mudah memaafkan seseorang walaupun kau harus terluka dengan pemberian maaf mu itu, kau selalu berusaha terlihat tegar, padahal dalam hati mu kau begitu rapuh, kudo'a kan supaya kau cepat dipertemukan dengan orang yang bisa membahagiakanmu kelak.” Gumam Fahril dalam hati dan terus memperhatikan ke dua wanita yang berdiri di hadapannya sambil mengendong Alif yang terlihat sudah mulai mengantuk. 

“Oh ya mbak, Alif pulang dengan kami saja ya, kan mbak juga masih repot di sini.” Pinta Humairah penuh harap, berharap Fatimah akan mengizinkan karna dia sangat menyayangi Alif seperti anak nya sendiri. 

“Baik lah, kalian bisa mengajak Alif pulang kalau kalian tidak keberatan.” Tutur Fatimah saat melihat
Humairah yang sangat berharap bisa mengajak Alif pulang bersama dengan nya. 

“Tentu saja kami tidak keberatan mbak, malahan kami sangat senang.” Senyum mereka indah di wajahnya karna telah di izinkan mengajak Alif pulang. 

“Nak pulang sama ayah dan ummi dulu ya, soalnya ammi masih ada pekerjaan di sini, Alif tidak boleh nakal harus nurut apa kata ayah dan ummi ya, Alif kan anak baik, anak yang soleh jadi harus nurut ya sayang.” Fatimah berjongkok untuk menyamakan tinggi nya dengan Alif yang sudah turun dari gendongan ayah nya.

“Iya ammi, tapi ammi ati-ati ya, anti angan lupa tepon Alif.”

“Iya sayang, nanti ammi pasti telpon Alif kok.” Fatimah berkata sembari mencium kedua pipi Alif dengan rasa sayang. 

“Mas, aku titip Alif ya” Fatimah berdiri dari hadapan Alif dan menujukan pandangan nya ke arah Fahril dan Humairah. “Humairah jangan sungkan untuk menasehati Alif kalau-kalau dia berbuat hal yang tidak sesuai dan tak sewajarnya untuk anak kecil seusia nya.” Fatimah berkata sambil terus tersenyum tulus di hadapan mereka. 

Ardhan yang sedari tadi memperhatikan dari jauh pun akhirnya mendekati mereka tanpa mereka sadari bahwa Ardhan sudah berada di samping Fatimah. 

“Assalamu'alaikum, wah seperti nya seru sekali nih, sampai-sampai saya yang berdiri di sini di anggurin.” Ucap Ardhan yang berpura-pura merajuk. 

“Waalaikumsalam” Jawab mereka bersamaan. 

“Maaf bang, Fatimah tak menyadari kedatangan abang, karna lagi ngobrol bersama Humairah.” Tutur Fatimah yang sedikit merasa bersalah kepada Ardhan. 

“Tidak apa-apa Fatimah, abang cuma bercanda kok, jangan merasa tidak enak gitu dong.”

“Em iya bang.” Saut Fatimah sambil tertunduk. 

***
Sudah dua hari berlalu dari pernikahan Fatma dan Abizar, Fahril dan yang lain nya pun sudah pulang semua kecuali Fatimah dan Ardhan karna mereka masih bantu-bantu di pesantren Kiai Abdullah. 

“Hari ini abang akan pulang, kalo Fatimah bagaimana, apa mau pulang bersama abang?!” Tanya Ardhan yang melihat Fatimah yang duduk di sebrang nya

Mereka sekarang berada di rumah Kiai Abdullah, karna baru selesai bantu beres-beres. 

“Tidak bang, soal nya selama enam bulan ke depan Fatimah akan barada di sini, setelah itu Fatimah berencana melanjutkan kuliah Fatimah yang masih tertunda.” Jawab Fatimah panjang lebar

“Oh...” Ardhan mengantung ucapanya sebelum dia melanjutkan nya “Oh ya Fatimah, Insyaallah besok lusa abang akan pergi ke luar negeri soal brapa lama abang tidak tau pasti, kamu di sini hati-hati ya, jaga diri, jaga kesehatan dan jaga iman.” Ardhan berkata mantap saat mengingat kan Fatimah akan segala hal dan sebenarnya dia ingin mengucapkan untuk jaga hati tapi tak bisa di ucapannya, kata-kata itu seperti nyangkut di tenggorokan nya susah untuk di ucap kan. 

“Iya bang, abang juga hati-hati di negri orang, jangan lupakan shalat, jaga juga iman mu bang.” Tutur Fatimah dengan senyuman yang mengembang indah di wajah nya, siapa pun yang melihat nya akan terpesona

“Insyaallah abang akan ingat pesan kamu, semoga kamu berhasil dengan cita-cita yang kamu impikan dan semoga kamu sukses dunia wal akhirat, aamiin.” Ucap Ardhan tulus. 

“Aamiin, semoga abang juga sukses dunia wal akhirat.”

“Aamiin”

***

Jodohku Milik Orang Bab. 16 Pernikahan Fatma Dan Abizar

Siang berganti malam, langit pun menunjukkan keindahan malam nya.

“Maaf kan aku ya Allah yang terkadang tak menyadari betapa besar kuasa-Mu, yang terkadang masih lalai dalam menjalankan kewajiban ku, maaf kan aku yang hanya manusia biasa ini yang tak pernah luput dari dosa. Malam semakin larut, begitu pun dengan diri ku yang semakin larut dalam kemelut hati yang tiada bisa ku akhiri, aku hanya bisa berbicara menenangkan bagi orang lain, tapi tak mampu menenangkan hati ku sendiri. Kadang ku bertanya di mana akhir jalan hidup ku, dimana harus ku berhenti walau hanya sejenak, di mana aku harus bersandar dari karam nya hati ini dan di mana hati ku kan berlabu.”

Fatimah masih bergelut dengan pemikirannya yang tak tentu arah yang selalu bisa membuat nya tanpa sadar meragukan kuasa-Nya.

“Ya Allah berilah kekuatan untuk diri ku, supaya kehidupan yang berat ini bisa terasa ringan untuk di jalani.” Fatimah berkata sambil mengusap wajah nya dengan kedua tangan nya. 

***


Hari pernikahan Fatma dan Abizar telah tiba, sekarang Fatimah sedang bersama Fatma di dalam kamar pengantin, acara pernikahan di adakan di pesantren Kiai Abdullah.

“Ukhti kau terlihat sangat cantik, aku berdoa kepada Sang Pemilik Cinta agar mencurah kan rahmat-Nya supaya rumah tangga mu menjadi sakinah, mawaddah, warohmah aamiin” Ucap Fatimah tulus sambil memandang pantulan bayangan nya bersama Fatma di dalam cermin. 

“Aamiin, semoga kau juga bisa secepatnya menemukan kebahagiaan mu ukhti” Ucap Fatma sambil terus memandang bayangan mereka di dalam cermin sambil tersenyum lembut kepada Fatimah. 

Fatimah hanya tersenyum menanggapi ucapan sahabat nya itu.

“Aku sangat ingin menemukan nya suatu saat nanti sahabat ku, tapi tak tau kapan aku hanya bisa berdoa dan memohon yang terbaik dari Allah (Fatimah tersenyum sambil berfikir bagaimana nasib nya kelak). 

Tok
Tok
Tok
Suara pintu di ketok

Serempak mereka menoleh ke asal suara, yang sudah berdiri sorang wanita paruh baya dengan setelan kebaya yang menyerupai gamis, ya dia adalah ummi nya Fatma. 

“Nak ayo temui suami mu, Abizar sudah selesai mengucapkan ijab, sekarang kamu sudah menjadi seorang istri.” Ummi memeluk Fatma sambil mengusap punggung anak nya “Ummi bahagia sayang, kami sudah lepas tangung jawab terhadap mu sayang, sekarang kamu adalah tanggung jawab suami mu, jaga perasaan suami mu, hargai dia, jaga kehormatan suami mu sayang, ibu harap rumah tangga kalian akan menjadi Sakina, mawaddah, warohmah. Aamiin.” Ummi berkata dengan linangan air mata bahagia yang jatuh di pipi nya. 

“Insyaallah ummi, Fatma akan menjalankan semua nasehat dari ummi, karna ridho ummi adalah ridho dari Allah juga.” Fatma merenggang kan pelukan nya dan mengusap air mata di pipi ummi nya. 

Fatimah hanya tersenyum menyaksikan keharuan antara ibu dan anak ini. Karna dia juga pernah merasakan saat-saat seperti ini walau sekarang

“Ayo ummi, nanti suami nya lama menunngu istri nya yang sudah sangat terlihat cantik ini” Goda Fatimah terhadap ibu dan anak itu”

“Eh iya ya, ummi tadi ke sini mau jemput Fatma, ini lagi malah tangis-tangisan jadi lupa kan” Kekeh ummi sambil melempar senyum kepada Fatimah

***

Cincin pun telah di semat kan di jari manis Fatma, walau pun sempat ada drama kecil, Fatma merasa malu saat Abizar akan memegang tangan nya saat akan memasukan cincin ke jari manis Fatma. 

Acara pun berlanjut, saat ijab qobul wanita dan laki-laki di pisah, tapi saat ini adalah acara pemberian selamat untuk kedua mempelai dari pihak keluarga dan sahabat terdekat, satu persatu keluarga dan sahabat di panggil untuk mengucapkan selamat kepada ke dua mempelai, tiba saat nya MC memanggil Fahri karna dia sahabat dari Abizar, Fatima yang melihat hanya tersenyum getir karna Fahril naik ke atas panggung bersama Humaira dan Alif. 

“Selamat untuk sohib ku, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah. Dulu kau juga mengucapkan dan mendoakan ku seperti itu, tapi tak terjadi di pernikahan ku yang pertama, dan ku harap doa mu akan terjadi di pernikahan ku yang ini, aamiin.” Ucap nya sambil mengulas senyuman manis. 

“Ya Allah, Fahril kenapa kamu jadi curhat” Teriak salah satu teman nya yang ada di bawah panggung. 

“Eh iya ya maaf sob, kebawa perasaan, intinya tiada kata-kata lain, saya cuma berharap kalian kan tetap bersama sampai ke jannah nya Allah.”

“Ammiin” Teriak semua orang yang hadir

Mungkin bagi sebagian orang kata-kata Fahril tak berarti apa-apa, tapi bagi Fatimah kata-kata tersebut bagai sembilu yang menyayat hati. 

Tiba giliran Fatimah yang di panggil ke atas panggung, Fahril hanya menatap nya dengan tatapan sendu, karna sadar ataupun tanpa sadar ucapannya tadi pasti telah menyakiti hati Fatimah, dia menyesali ucapan nya tadi karna ucapan itu telah lolos dari mulut nya. 

“Maaf kan aku Fatimah karna tanpa sengaja aku telah menyakiti hati mu lagi.” Gumam nya yang hanya dia seorang yang mendengar nya. 

“Assalamu'alaikum, berdirinya saya di sini tidak untuk mengucapkan selamat, karna waktu di kamar rias saya sudah mengucapakan nya, bahkan jauh sebelum mereka akan menikah, karna kemana-mana mereka pergi saya yang menjadi pengawal nya.” Senyum merekah indah di wajah nya, sejenak dia melupakan kesedihan nya karna ini adalah hari bahagia sahabat nya. “Sudah sering saya memberi dan mengucapkan kata-kata selamat, sekarang giliran saya yang meminta pada mereka berdua.” Sambil mengedipkan sebelah mata nya kepada Fatma yang sedang merangkul tangan nya.

“Oh sekarang mulai hitung-hitungan sama aku ya ukhti.” Sambil memelototkan mata nya pada Fatimah. 

“Eh eh jangan melotot dulu wahai ukhti, yang aku minta kamu pasti suka.”

“Jadi apa yang kamu pinta ukhti?”

“Tidak banyak kok, aku cuma minta keponakan yang lucu-lucu, cantik dan ganteng, gimana apa kamu tidak mau ngasih aku keponakan?!” Fatimah berucap dengan wajah yang di buat-buat kayak orang lagi sedih. 

Semua orang yang hadir cuma senyum-senyum mendengar ucapan Fatimah, tak terkecuali Ardhan. 

“Ya Allah ukhti kukira kamu tadi mau minta apa, kalau itu sih aku juga mau, kamu boleh minta apa aja asal jangan minta suami ku aja.” Fatma berkata sambil memeluk tangan Abizar, dan yang menerima pelukan itu kaget sekaligus senang tak ketulungan. 

“Cie cie, tadi aja tidak mau di pegang tangan, lah sekarang malah meluk-meluk, tidak malu lagi buk.” Goda Fatimah yang berhasil membuat Fatma tersipu malu. 

“Apa sih ukhti, aku kan jadi malu.” Fatma langsung melepaskan tangan nya dari lengan Abizar. 

“Ya ukhti ku ternyata bisa malu juga, tidak apa-apa ukhti, kan mas Abizar sudah sah menjadi suami kamu, tapi kalau belum sah aku adalah salah satu orang yang memarahi kamu.” Goda Fatimah sambil memelotot kan mata nya. 

Mereka saling berpelukan, dan tanpa di suruh air mata Fatimah dan Fatma mengalir di pipi mulus mereka. 

“Ternyata kamu orang yang periang Fatimah, aku baru sadar dengan sifat mu yang seperti ini dan aku juga senang melihatmu begitu bahagia hari ini, walau ku tau kau menyimpan luka mu bersama dengan senyum mu.” Gumam Ardhan di dalam hati dan terus memperhatikan Fatimah dalam diam nya. 

Kamis, 17 Juni 2021

Jodohku Milik Orang Bab. 15 Jalan-Jalan

***
“Ayo sayang kita jalan-jalan ke Gandus di sana terdapat Al-Quran terbesar sekalian wisata religi dan lagi Al-Quran nya bertepatan di salah satu pondok pesantren, nanti di perjalanan ammi jelaskan lagi, mending sekarang kita barangkat nanti kesiangan” Ajak Fatimah kepada anak nya. 

“Baik ammi, tapi om ikut juga kan?“
Tanya Alif kepada Ardhan. 

“Iya, om akan ikut Alif pergi.” Jawab Ardhan sambil tersenyum. 

Setelah mereka di dalam mobil Fatimah menceritakan lagi tentang Al-Quran raksasa.

***
“Ayo sayang sekarang kita sudah sampai, ayo bang selama ini aku baru dua kali datang ke sini dan ini adalah kunjungan ke dua ku, walaupun lama tinggal di sini, tapi sering tidak ada cukup waktu tuk kesini” Jelas Fatimah kepada Ardhan. 

“Kalau yang pertama sama siapa Fatimah? ”Tanya Ardhan yang terus berjalan sambil menuntun Alif, mereka seperti satu keluarga yang harmonis, Fatimah di sebelah kiri dan Ardhan di sebelah kanan. 

“Yang pertama bersama Fatma, waktu pulang dari pesantren” Jawab Fatimah santai. 

“Kalau sama Fahril apa tidak pernah ke sini? Kan waktu itu kamu tinggal di Palembang?!” Tanya Ardhan yang berhasil membuat Fatimah menghentikan langkah nya. 

“Kami tidak pernah ke sini, karna kesibukan mas Fahril yang selalu bolak balik Jakarta-Palembang karna urusan pekerjaan, paling kita kalau lagi hari libur cuma ke timezone menemani Alif bermain, aku juga tidak menuntut ingin liburan karna menurut ku asal kan bersama itu sudah cukup.” Fatimah menjawab sambil mengulas senyuman yang manis dan dengan tatapan yang sulit tuk di arti kan.

“Oh maaf Fatimah kalau abang sudah lancang menanyakan masa lalu mu.” Ardhan nampak merasa bersalah karena telah lancang bertanya seperti itu ke pada Fatimah. 

“Tidak apa bang, itu kan sudah jadi masa lalu ku, ayo kita masuk dan liat-liat dan tolong nanti potoin ya bang.” Jelas Fatimah sambil mengulas senyum bahagia, karna menurut nya masa lalu hanya untuk di kenang bukan untuk di ratapi. 

“Ok nanti abang potoin.” Jawab Ardhan yang langsung diangguki oleh Fatimah. 

“Sini bang tolong potoin Fatimah di situ ya, abang poto nya dari sini aja.” Pangil Fatimah sambil melambaikan tangan dan terus tersenyum. Senyuman yang bisa menggetarkan hati Ardhan.

“Alif tunggu di sini sama om dulu ya sayang, ammi mau minta di potoin sebentar.” Jelas Fatimah kepada  Alif, yang cuma diangguki dan senyumin oleh sang anak.

“Mana bang hasil nya, Fatimah mau !lihat” Pinta Fatimah dan langsung diangguki dan menyodorkan HP nya. 

“Ini, bagus hasil nya kamu kelihatan cantik.” Puji Ardhan yang langsung di sambut senyuman yang manis oleh Fatimah. 

“Iya benel ammi tantik, tapi kan ammi nya Alif memang celalu tantik, iya kan om?” Kata Alif  polos yang langsung minta persetujuan Ardhan. 

“Bener banget kamu sayang.” Kata Ardhan sambil mencium pipi Alif karna gemes dengan tingkah laku Alif. 

“Abang kenapa malah ngikut Alif, aku kan jadi malu, apa lagi di sini lagi banyak orang, tuh orang pada liat ke sini.” Sungut Fatimah sambil mengarahkan pandangannya kepada orang-orang. 

“Tidak usah malu lah, kan abang bilang yang abang lihat.” Ardhan berkata sambil tersenyum  menghadap Fatimah. 

“Terserah abang lah.” Jawab Fatimah malu-malu. 

“Ya, memang terserah abang lah kan yang abang puji tu calon istri abang.” Ardhan senyum-senyum sambil menaik turun kan alis nya. 

“Apa sih bang, becanda nya tidak lucu.” Jawab Fatimah asal padahal dia cuma menutupi rasa canggung dan rasa malu nya saja, tapi dia lebih memilih tak menanggapi serius ucapan Ardhan. 

“Andai kamu tahu Fatimah, aku itu berkata jujur, aku jujur dan tulus ingin menjadi kan mu istri ku, tapi seperti nya kau masih belum ingin membuka hati mu, ku harap kau akan segera membuka hati mu.” Gumam Ardhani di dalam hati sambil menghadap Fatimah yang sedang tersenyum kepada nya. 

“Jujur bang, aku cukup tertarik dengan diri mu dan perhatian mu, tapi aku belum siap, aku belum siap seandainya kau hanya akan mempermainkan diri ku, walau ku melihat ketulusan di mata mu, aku hanya meragukan diriku sendiri, apa aku sanggup menerima mu tanpa menyakiti mu. Aku bukan lah wanita yang sempurna tuk mu bang, ku harap kau bisa menemukan wanita yang jauh lebih baik dari ku. Fatimah berkata di dalam hati sambil tersenyum menghadap Ardhan. Ini lah yang di sebut bibir tersenyum, tapi hati berkata lain. 

Lamunan mereka terhenti kalah mendengar suara Alif yang memanggil mereka. 

“Ammi, om kok malah melamun, kan Alif melasa di anggulin.” Kata Alif sambil memanyunkan bibir nya. Entah mengapa kadang pemikiran Alif bisa terlihat sangat berbeda dari umur nya, tapi walau begitu Alif tetap lah seorang anak kecil yang masih belum benar-benar pahan akan kehidupan orang dewasa. 

“Tidak kok sayang, ammi tidak melamun.” Jawab Fatimah sambil mencium dan mengelus kepala Alif. 

“Iya, om juga tidak melamun, om tadi cuma mikir abis ini Alif mau pergi ke mana lagi?!” Jawab Ardhan beralasan. 

“Oh, alau abis ini Alif mau makan telus pulang, coal nya Alif udah capek om.” Jawab Alif dengan gaya polos nya dan di tambah lagi dengan logat bicara nya yg lucu. 

***

“Nak, Alif abis ini mau tinggal sama nenek atau mau tinggal sama ayah, Alif kan tau kalau ammi sekarang harus kerja dan ammi juga akan melanjutkan kuliah ammi yang belum selesai?!” Jelas Fatimah pada Alif, karna kalau Alif tinggal sama Fatimah dia akan sering di tinggal-tinggal pergi. Tentu saja Fatimah tidak ingin anak nya merasa sedih dan sendiri. 

“Tapi Alif mau nya tinggal sama ammi!” Jawab Alif sambil memasang muka sedih nya, yang bisa membuat Fatimah tak berdaya menghadapi nya. 

“Atau gini aja, selagi ammi kerja atau kuliah Alif tinggal sama ayah dulu, setelah ammi pulang ammi akan jemput Alif. Gimana sayang mau ya, ini kan untuk kebaikan ammi dan Alif juga.” Jelas Fatimah kepada Alif supaya bisa mengerti keadaan nya sekarang. 

“Kalau itu...
Alif mau mi, asal bisa sama ammi.” Jawab Alif sambil berpikir. 

“Berarti Alif setuju kan sayang, kita deal kan sekarang?”  Ucap Fatimah sambil menyodorkan tangan nya pada Alif seperti orang yang akan mengajak berkenalan. 

“Iya ammi tu cayang” Jawab Alif sambil memeluk Fatimah, bukan menjabat tangan Fatimah tapi malah memeluk Fatimah. 

“Ya sudah sekarang Alif tidur ya sayang, kan besok kita sudah harus balik dan lagi ammi juga harus balik ke pesantren tempat ammi bekerja!” Bujuk Fatimah sambil membelai lembut rambut Alif. 

“Ammi di cana kelja apa? Kok Alif tak tau?” Tanya Alif dengan tingkah polos nya karna merasa penasaran. 

“Ammi di sana mengajar kan cara menjahit, dan gimana caranya supaya bisa membuat baju sendiri sayang.” Jelas Fatimah. 

“Ammi bica jait, kenapa Alif tak tau mi? Ammi kan tak pelnah jait sama Alif!”

Fatimah tersenyum mendengar celotehan anak nya yang selalu ingin tahu tentang hal-hal yang belum pernah ia ketahui. 

“Iya sayang, ammi bisa jahit kan ammi kuliah di pakultas desain fashion.”

🌹🌹🌹

“Ukhti, aku tambah gugup sekarang, apa lagi pernikahan ku tinggal tiga hari lagi rasa nya gimana gitu.” jelas Fatma sambil menggengam tangan Fatimah. Sangat nampak di wajah nya bahwa sekarang ia sedang gunda. 

“Insyaallah semua nya akan baik-baik saja, serahkan semua pada Allah karna Dia yang maha segalanya.” Fatimah berusaha menenangkan sahabat nya yang sedang gelisah menghadapi hari pernikahan nya yang hanya tinggal menghitung hari. 

“Iya aku yakin dengan kuasa-Nya ukhti, cuma rasa gugup ku tidak bisa ku sembunyikan.” Ucap Fatma yang masih merasa gelisah. 

***

Ekhem gimana ya kelanjutan Fatimah dan Ardhan? 

Kok mereka jarang di expose ya? 

Nantikan kelanjutan nya di “Novel Jodohku Milik Orang”

... 

Kamis, 10 Juni 2021

Jodohku Milik Orang Bab. 14 Pulang kampung

Satu hari berlalu, sekarang Fatimah bersiap pulang ke kampung halaman nya yang berada di Palembang.

Lima puluh menit menempuh penerbangan dari Jakarta-Palembang akhirnya Fatimah dan rombongan sampai di bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II

Fatimah dan rombongan di jemput oleh orang tua nya yang sudah menunggu mereka.

“Nenek, Alif lindu sama nenek.”

“Iyo nenek jugo rindu samo Alif, apo kabar cocong nenek yang cindo ni (Iya nenek juga rindu sama Alif, apa kabar cucu nenek yang ganteng ini).” Ibu Fatimah memeluk Alif yang di balas pelukan pula oleh Alif.

“Alif aik nek.” Alif menjawab dengan cara bicara yang belum sempurna karna usia nya yang masih dua tahun setengah, membuat orang yang mendengar jadi tersenyum.

“Assalamu'alaikum bu, abah apo kabar? (Assalamu'alaikum bu, abah apa kabar).” Tanya Fatimah kepada kedua orang tua nya sambil mencium punggung tangan kedua orang tua nya.

“Waalaikumsalam, alhamdulillah abah dan Ibu sehat.” Jawab abah.

“Mano Falih, ngapo dio dak teliat bu? (Mana Falih, kenapa dia tidak melihat bu?).” Tanya Fatimah karna tidak melihat keberadaan sang adik.

“Adek mu lagi begawe, jadi dio dak pacak melok ke sini (Adik mu lagi bekerja, jadi dia tidak bisa ikut ke sini).” Kali ini ibu Fatimah yang menjawab.

“Eh kita bicara pakai bahasa Indonesia saja, nanti nak Ardhan tidak mengerti apa yang kita bicara kan.” Celetuk abah yang baru menyadari dengan keberadaan Ardhan.

“Tak apo-apo bah, Ardhan ngerti dengan baso keluarga abah, karno Ardhan perna tinggal lamo di Palembang (Tidak apa-apa bah, Ardhan mengerti dengan bahasa keluarga abah,karna Ardhan pernah tinggal  lama di Palembang).” Jawab Ardhan yang menirukan bahasa keluarga Fatimah.

“Oh jadi nak Ardhan pernah tinggal lama di sini?”  Tanya abah Fatimah yang tak menyangka kalau Ardhan mengerti dengan percakapan mereka.

“Iya bah, saya pernah tinggal bersama nenek di sini sebelum nenek juga ikut pindah ke Jakarta.” Ardhan menjawab sambil terus mengulas senyuman menawan nya.

“Yo sudah kalu macam tu, payo kito balek (Ya sudah kalo seperti itu, ayo kita pulang).” Ajak ibu kepada Fatimah dan yang lain nya.

***
“Bang nanti abang tinggal di rumah abah dan ibu saja ya, kalau di rumah Fatimah takut nya akan timbul fitnah soal nya kita tidak ada ikatan.” Ucap Fatimah menjelaskan kepada Ardhan.

“Iya tidak apa-apa, tapi kalau mau buat ikatan sama abang boleh juga tu, biar abang lamar terus abang ajak kamu nikah deh.” Ardhan tersenyum menggoda Fatimah yang kaget akan ucapan nya.

*deg

“Abang tidak usah bercanda kayak gitu deh tidak lucu ah, ya sudah aku mau pulang ke rumah dulu bang.” Fatimah berlalu meninggalkan Ardhan dengan hati yang masih deg degan.

Ardhan hanya tersenyum melihat kelakuan Fatimah.

“Aku serius Fatimah, tapi seperti nya kamu belum siap membuka hati kamu untuk laki-laki lain, aku tau kamu masih merasa terpuruk atas peristiwa yang menimpa mu, tapi aku kan menunggu mu, kalau kita berjodoh pasti akan bersatu bagaimana pun caranya Allah pasti mempersatukan kita. Ardhan membatin sambil memperhatikan punggung Fatimah yang berlalu meninggalkan nya.

*Di rumah Fatimah

“Seperti nya aku harus melanjutkan kuliah ku tahun depan, kan sayang kalau tidak ku lanjutkan, setelah itu aku bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih bagus lagi supaya bisa menata masa depan bersama malaikat kecil ku lagi.” Fatimah berbicara sendiri sambil berbaring di kamar nya sendirian, karna Alif tinggal di rumah orang tua nya yang masih ingin bermain sama nenek dan kakek nya.

Setelah ba'da ashar Fatimah kembali ke rumah orang tua nya untuk menjemput Alif.

“Assalamu'alaikum abah.” Sapa Fatimah kepada abah nya yang ada di teras rumah.

“Waalaikumussalam.” Jawab sang abah yang mendengar salam dari putri sulung nya.

“Di mana Alif bah, kok tidak kelihatan?” Tanya Fatimah sambil clingak clinguk melihat tak ada kehadiran anak nya.

“Anak mu lagi jalan-jalan sama Ardhan, kata anak mu dia bosan dirumah, jadi langsung di ajak Ardhan jalan.” Jelas abah kepada Fatimah.

“Jalan ke mana bah?” Tanya Fatimah penasaran.

“Kata nya ke mall ingin main di timezone.” Jawab Abah.

“Sudah lama ya bah, aduh jadi ngerepotin bang Ardhan ni.” Fatimah merasa tidak enak hati karna telah merepotkan Ardhan.

“Tidak repot kok, malahan aku senang bisa main sama Alif.” Celetuk Ardhan saat mendengar Fatimah yang merasa tidak enak hati kepada nya.

Fatimah terkejut dan langsung menoleh ke sumber asal suara.

“Eh bang Ardhan, sudah pulang bang?!” Tanya Fatimah yang sedikit terkejut dengan kehadiran Ardhan yang secara tiba-tiba.

“Iya, takut kesorean nanti kamu malah jadi cemas.” Ardhan bertutur lembut dan dengan senyuman nya yang menawan.

“Alif senang tidak main ke timezone sama om Ardhan?” Tanya Fatimah sambil berjongkok di hadapan anak nya supaya tinggi nya sejajar.

“Senang ammi, Alif cenang cekali main cama om Aldhan” Kata Alif sambil cengegesan.

“Kalau senang bilang apa dong sama om nya!” Ucap Fatimah kepada Alif yang kelihatan sangat senang.

“Bilang makacih mi..” Alif berkata sambil mencium pipi ammi nya yang sedang berjongkok di depan nya.

“Bukan sama ammi sayang, tapi sama om Ardhan.” Fatimah hanya terseyum melihat tingkah lucu anak nya.

Alif berbalik dan menarik baju Ardhan, Ardhan pun berjongkok untuk mensejajarkan tubuh mereka.

“Iya! ada apa Alif sayang?” Tanya Ardhan saat dia sudah berjongkok.

“Alif mau bilang makacih, makacih udah ajak Alif main  ke timezone om” Alif berkata sambil memeluk Ardhan yang sedang berjongkok di depan nya.

“Sama-sama sayang, om senang bisa main sama Alif” Jawab Ardhan sambil membalas pelukan Alif dan tentunya Ardhan merasa sangat senang karna Alif bisa akrab dengan nya.

“Besok Alif mau ikut ammi ngak?”
Tanya Fatimah sambil mengelus rambut Alif yang hitam.

“Kemana mi? Alif mau ikut!” Alif menjawab sambil loncat-loncat karna merasa senang bisa menghabiskan waktu bersama ammi nya.

“Ada deh, besok Alif bakal tau” ucap Fatimah sambil mencium pipi anak nya.

“Tapi om ikut kan?” Tanya Alif kepada Ardhan yang masih berjongkok di depan nya “Ikut kan ammi?!” Tanya nya lagi kepada sambil menoleh ke arah Fatimah.

“Tanya om nya sayang, mau ikutan atau tidak.” Jawab Fatimah kepada Alif dan di balas dengan anggukan oleh Alif.

“Gimana om mau aja ya, nanti alau Alif apek ada yang endong Alif” Alif berkata penuh harap, Ardhan hanya tersenyum melihat tingkah lucu Alif.

“Iya sayang, om ikut.” Jawab Ardhan mengacak-acak rambut Alif.

“Ih om, angan belantakin lambut Alif.” Rajuk Alif sambil memanyun kan bibir nya, Fatimah dan Ardhan hanya tersenyum gemas melihat nya.

***
“Ayo sayang kita jalan-jalan ke Gandus di sana terdapat Al-Quran terbesar sekalian wisata religi dan lagi Al-Quran nya bertepatan di salah satu pondok pesantren, nanti di perjalanan ammi jelaskan lagi, mending sekarang kita barangkat nanti kesiangan.” Ajak Fatimah karna takut akan kesiangan.

“Ok ammi, om juga ayo kita jalan nanti ammi yang adi peandu kita” Ajak Alif dengan girang.

“Ayo, om akan ikut kemana Alif mau pergi
” Jawab Ardhan sambil tersenyum.

🌹🌹🌹
Ayo penasaran gak sama akhir cerita Fatimah dan Ardhan?

Siapa ya kira-kira yang jadi jodoh Fatimah sampai ke Jannah?

Apa Ardhan akan bersatu dengan Fathanah atau akan ada yang lain?

Stay terus ya di novel Jodohku Milik Orang!


Jodohku Milik Orang Bab.13 Perasaan Fatimah

Happy Reading All 😘

*Fatimah POV on*

Di sini lah aku sekarang, dirumah mantan suami ku, sejujurnya aku sangat barat hati saat akan datang ke sini dan bertemu dengan orang yang perna jadi suami ku, tapi ini semua ku lakukan demi anak ku Alif, semua orang melihat ku sebagai wanita tanggu, wanita yang mandiri, wanita yang cerdas, wanita yang tegar, wanita yang shalehah, tapi sebenarnya aku hanya wanita yang lemah, aku sama seperti wanita pada umumnya, yang ingin di sayang, yang ingin  di manja, yang ingin diperhatikan, yang ingin  di mengerti dan wanita yang butuh sandaran dikala hati ini sedang terpuruk dan terjatuh ke dalam jurang kehancuran. Memang kedengarannya seperti aku tak percaya akan kehendak Tuhan, tapi kembali lagi aku ini hanya manusia biasa yang masih banyak kekurangan, yang masih mmpunyai hawa nafsu. Aku meratap, menangis, bersimpuh pada yang maha Kuasa berusaha tuk ihklas seutuhnya demi anak ku, aku harus bangkit walau tanpa seorang laki-laki yang memimpin ku, aku harus bangkit tuk diri ku dan anak ku.

Salam ku ucap kan  waktu sampai ke depan pintu rumah nya
“Assalamu'alaikum...”

“Waalaikumsalam”

Aku melihat Humaira yang membukakan pintu tuk ku dan bang Ardhan, sakit hati saat melihat nya kurasa bukan rasa itu yang kurasakan, tapi lebih ke rasa kecewa namun sebisa mungkin akan ku singkirkan rasa itu, karna aku yang ingin mengikhlaskan jadi aku harus berlapang dada.

Dia mempersilahkan kami masuk, saat masuk aku melihat Alif keluar dari dalam rumah dan langsung menghamburkan diri nya ke pelukan ku.

“Silahkan masuk mbak, bang!”
Ajak Humaira kepada kami.

“Ammi, Alif lindu ammi, nanti Alif ikut ammi ya, kata ayah Alif halus nanya ammi dulu balu boleh ikut...”
Aku senang melihat dan mendengarkan anak ku bercoteh, tanpa terasa air mata ku mengalir membasahi pipi ku saat melihat anak ku.
Dia mengusap lembut air mata di pipi ku dengan tangan kecil nya saat melihat aku menangis.

“Ammi kenapa nangis, Alif tak mau liat ammi nangis, Alif sedih lau liat ammi kayak gini hiks hiks.”

Anak ku mulai menangis, sakit hati ku rasa nya melihat anak ku menangis karna menghawatirkan diri ku.

“Tidak sayang, ammi senang bisa ketemu sama kamu, oleh karna itu ammi nanggis, ini air mata kebahagiaan sayang.” Aku tersenyum milihat anak ku supaya dia tidak merasa sedih lagi.
Alif pun berhenti memagis setelah aku membujuk nya.

Tak lama berselang mas Fahril datang menghampiri kami, dia menyapa ku dan bang Ardhan, aku hanya tersenyum berusaha menyimpan luka yang masih basah, yang masih terasa perih jika teringat akan peristiwa itu. Aku berusaha menutupinya walau tak mudah.

“Assalamu'alaikum Ardhan, Fatimah.” Sapa nya pada kami berdua

“Walaikumsalam” Jawab bang Ardhan dan aku hanya menjawab di dalam jati dan masih terus tersenyum.

Mas Fahril berusaha mengajak ku berbicara walau hanya seputar Alif dan kesibukan ku sekarang, aku hanya menjawab seperlunya saja, karna ku tau aku harus menjaga hati Humaira yang saat ini berstatus sebagai istri mas Fahril, sedangkan aku hanya seorang mantan istri.

“Bagaimana keadaan Kiai Abdullah?” lagi mas Fahril bertanya kepada ku

“Alhamdulillah Kiai Abdullah sekeluarga sehat, oh iya mas ada undangan dari Fatma, dia akan menikah dua minggu lagi, ini undangan nya, dia berharap mas dan Humaira bisa hadir di pernikahan nya nanti.” Jelas Fatimah yang merasa agak canggung saat berbicara dengan Fahril.

“Insyaallah, aku dan Humaira akan hadir di pernikahan Fatma”

Aku hanya mengangguk menanggapi ucapan nya. Tak lama dari situ kami undur diri dan mengajak Alif ikut serta bersama kami, Anak ku begitu senang bisa ikut bersama ku. Hati ku menghagat melihat anak ku yang begitu bahagia bahkan dengan hal-hal yang kecil seperti ini, aku bahagia memiliki anak seperti Alif yang tak pernah menuntut dia hanya ingin satu, yaitu kasih sayang dari kedua orang tua nya, sebisa mungkin aku dan mas Fahril memenuhi keinginan kecil nya ini, walaupun kami telah berpisah.

Waktu menjelang siang, kami sampai di rumah orang tua bang Ardhan, karna memang jarak antara rumah mas Fahril dan orang tua angkat ku ini tidak lah jauh.

“Assalamu'alaikum” Ucap kami barsamaan saat berada di depan pintu yang terbuka, ku melihat orang tua angkat ku lagi duduk santai di ruang tamu, mereka sengaja menunggu di ruang tamu karna mereka telah mengetahui akan kepulangan kami hari ini.

“Waalaikumsalam” Jawab mereka kompak, lalu pandangan mereka beralih ke Alif yang sedang berada di dalam gendongan bang Ardhan.

“Eh ada Alif, sini cucu oma duduk di samping oma” Lalu mama mengambil Alif dari gendongan bang Ardhan dan menuntun Alif masuk ke dalam rumah, Aku hanya tersenyum melihat perlakuan orang tua angkat ku terhadap Alif.

“Ayo masuk nak, jangan  berdiri di situ, kayak orang yang mau nagih hutang aja tidak masuk.”

Aku mengangguk dan mengulas senyum ku ke pada papa Wijaya.

Bang Ardhan mengekor di belakang ku, sampai akhirnya bang Ardhan membuka suara setelah kami hanya tinggal berdua di ruang keluarga, karna Alif ikut mama dan papa ke taman yang ada di belakang rumah yang besar ini.

“Fatimah kenapa sejak pulang dari rumah Fahril, kamu jadi tidak banyak bicara?” Tanya nya pada ku

Sebenarnya aku juga tidak tahu kenapa aku lebih pendiam setelah kepulangan kami dari rumah mas Fahril, aku cuma merasa nyaman saja dengan cara diam ku ini, mungkin bisa di bilang aku merasa kecewa, sedih, bahagia menjadi satu. Kecewa karna penghianatan mas Fahril, sedih karna aku masih susah untuk ikhlas akan segalanya dan bahagia karna masih banyak yang menyayangiku. Mungkin rasa itu lah yang tepat untuk perasaan ku sekarang.

Ternyata memang benar melupakan orang yang menyakiti itu lebih susah, bukan berarti aku mencintai nya tapi aku merasa lelah dengan perasaan ini. Lamunan ku terhenti saat terdengar suara bang Ardhan yang kembali bertanya kepada ku.

“Fatimah kamu kenapa? Kok malah melamun! ”

“Tidak bang Fatimah hanya merasa lelah, mungkin karna perjalanan yang cukup jauh dan lama sehingga membuat Fatimah lebih memilih untuk diam sangking capek nya.”Jawab ku sambil terus menyelipkan senyum termanis ku

“Benar cuma karna capek?  Bukan karna yang lain?” Tanya nya lagi untuk memastikan bahwa yang ku katakan benar ada nya.

Aku tersenyum “Iya abang, Fatimah tidak apa-apa!”

“Ya sudah kalau capek kamu istirahat saja dulu di kamar, biar Alif nanti abang yang urus, lagi pula sekarang dia masih main sama oma dan opa nya di taman belakang” Katanya sambil tersenyum tulus ke pada ku.

Akhirnya aku memilih tuk istirahat di kamar ku “Iya bang, Fatimah istirahat dulu ke kamar ya, Fatimah ingin  tidur sebentar, titip Alif ya bang” Aku berlalu meninggalkan bang Ardhan yang mengangguk dan tersenyum kepada ku.

*Fatimah POV off*

Sabtu, 05 Juni 2021

Jodohku Milik Orang Bab.12 Kembali Pulang

Happy Reading 😘
🌹🌹🌹 

"Aku tu gugup banget, aku ragu jangan-jangan aku belum siap lagi dan gimana kalau banyak tamu yang tidak datang, bagaimana kalau mas Abizar salah sebut nama, aduh bagaimana ini!?" Fatma berbicara sambil memegang kepala nya, karna merasa prustasi.

"Ini ni yang di sebut ketakutan yang berlebih. Udah tenang aja ya, aku yakin kamu pasti bisa kok, soal gugup itu wajar karna hampir seluruh calon pengantin mengalami kegugupan, tapi ingat apa yang telah di gariskan oleh Allah itu pasti akan terjadi, kita hanya bisa berusaha dan meminta yang terbaik, apapun hasil nya nanti itulah yang terbaik dari Allah." Fatimah menenangkan Fatma sambil terus mengelus punggung sahabat nya.

"Ya aku tau ukhti, tapi seingatku dulu kamu tidak kayak aku ya ukhti?!"   Fatma merasa bahwa memang benar diri nya terlalu khawatir.

"Maksud ukhti?" Fatimah balik bertanya.

"Ya gini, perasaan yang berlebihan menjelang pernikahan." Jawab Fatma.

"Iya juga sih, seingat ku dulu juga gitu, sejujurnya kekhawatiran yang aku rasa kan semua nya ku pasrah kan pada Allah, ku serahkan dan ku sandarkan hanya kepada Allah." Jelas Fatimah.

"...."

"kok diam?" Tanya Fatimah karna sahabat nya itu mendadak diam setelah mendengar penjelasan dari nya.

"Aku ingin mendengarkan wejangan dari mu ukhti, terus apa?" Tanya Fatma lagi setelah acara diam nya tadi.

Fatimah tersenyum melihat Fatma yang sangat serius mendengar kan penjelasannya.

"Jadi, aku berharap kamu juga bisa berserah, berpasrah diri hanya kepada Allah, Insyaallah kamu kan menemukan dan di tunjukan jalan yang terbaik." Jelas Fatimah panjang lebar.

"Ya aku kan menuruti saran mu ukhti." Fatma.

🌹🌹🌹

Meraka bedua sampai di kediaman Kiai Abdullah, mereka mengucapkan salam secara barengan

"Assalamu'alaikum." Ucap Fatimah dan Fatma berbarengan.

"Walaikumussalam" Jawab orang yang ada di dalam rumah.

"Eh bang Ardhan sudah datang, apa kabar bang?" Kali ini Fatma yang nyletuk, karna dia terkejut tiba-tiba Ardhan sudah datang dan berada di rumah nya.

"Iya Fatma, saya baru saja tiba." Ardhan menjawab sembari melempar senyuman nya.

***
Fatimah kembali sendirian, karna sekarang ini dia lagi berada di asrama nya.

"Ya Allah meski mulut ini berkata ingin ikhlas, tapi kenapa hati ini belum bisa terima, apa aku brlebihan, atau aku yang terlalu egois, mengapa perasaan di hianati dan perasaan ditinggalkan begitu kuat terasa, apa karna aku berada di sini?” Gumam Fatimah yang merasa lelah dengan keadaan, tapi dia tetap terus berusaha.

“Di tempat yang terlalu banyak kenangan bersama nya dulu. Ku akui bahwa dia tidak pernah mengetarkan hati ku walau sekalipun, tapi kenapa rasa sakit di hati karna di tinggalkan nya begitu membekas, apa yang harus aku lakukan, apa aku harus mengikuti petunjuk yang ada di dalam mimpi panjang ku waktu itu?!” Fatimah berpikir keras antara mengikuti kemauannya atau mimpi yang pernah datang dalam tidur panjang nya waktu itu.

"Biarlah berjalan sesuai apa adanya, Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik tuk ku. Lebih baik aku tidur soalnya besok harus berangkat pagi." Sambung nya lagi sebelu berbaring di atas tempat ntidur nya.

***
“Ukhti aku brangkat dulu ya, jangan berpikir yang berlebihan, serahkan semua kepada Allah, yakin lah akan janji Allah!” Fatimah mengingatkan dan sekalian berpamitan dengan Fatma sambil berpelukan.

“Iya ukhti, kamu juga jangan sedih lagi ya, walaupun kau berkata tidak, tapi aku masih tau kau itu orang yang seperti apa, karna seperti yang kau bilang kita bukan kenal satu atau dua hari, tapi sudah bertahun-tahun jadi aku telah hapal sifat dan kebiasaan mu.” Fatma membalas pelukan Fatimah sambil memberikan semangat pada sahabat nya itu.

"Ya kau yang paling tau aku setelah Allah dan orang tua ku." Fatimah hanya bisa tersenyum mendengar ocehan sahabat nya. "Ya sudah saya pulang dulu ya, Kiai, ummi, Fatimah pulang dulu ya insyaallah Fatimah akan secepatnya kembali." Pamit Fatimah sembari mencium punggung tangan Kiai Abdullah dan Ummi yang di ikuti oleh Ardhan.

"Fii amanillah(Semoga dalam lindungan Allah)" Ucap Kiai Abdullah.

"Ma'assalamah Kiai." Jawab Ardhan dan Fatimah bersamaan.

*Sementara itu di lain tempat dan waktu yang sama**

"Ayah kapan ammi kan jenguk Alif, Alifkan lindu ammi, apa ammi gak sayang Alif lagi?" Kata Alif sendu karna menahan rindu terhadap Fatimah.

"Insyaallah ammi kan jenguk Alif besok, atau mungkin hari ini.” Ucap Fahri menyemangati anak nya yang tengah bersedih.

"Yang benal ayah, ammi mau ke sini?" Alif sangan senang mendengar ammi nya akan datang.

"Iya sayang, jadi Alif sabar ya kalo tidak hari ini, insyaallah besok ammi ke sini." Fahril senang melihat anak nya yang sangat senang mendengar bahwa ammi nya akan datang.

"Iya ayah, tapi Alif boleh ikut ammi ya yah" Alif bertanya penuh harap

"Nanti Alif coba tanyakan langsung ke ammi aja ya sayang!" Fahril tidak mau mbebeni Fatimah jikalau dia langsung mengiyakan permintaan Alif, karna sampai saat ini pun Fahril masih sangat menghargai apa pun keputusan Fatimah, dia tak ingin lagi menyakiti hati wanita yang telah melahirkan anak nya, sejujurnya hati nya masih menginginkan Fatimah walau itu tak kan mungkin lagi, karna dia sudah memiliki istri yaitu Humaira.

Lamunan Fahril terhenti saat dia mendengar Humaira manggil nya.

"Mas, jadi atau tidak mbak Fatimah mampir ke sini, kasihan Alif sudah sangat rindu sama mbak Fatimah?!"  Humaira bertanya bukan tanpa alasan, karna hampir setiap malam Alif mengigau menyebut-nyebut nama Fatimah.

"Tadi Ardhan telpon, kata nya hari ini ammi nya Alif pulang sama dia, skalian akan langsung mampir kalau tidak kemalaman." Ucap Fahril pada Humaira.

“Oh, ya sudah kalau gitu aku mau masak dulu ya mas, siapa tau nanti mbak Fatimah beneran datang hari ini bisa sekalian kita makan sama-sama.” Senyum Humaira mengembang tulus saat mendengar Fatimah akan datang ke rumah nya hari ini.

“Iya sayang, mas mau nemenin Alif main dulu, kamu juga jangan terlalu capek kalau butuh bantuan panggil mas aja ya, kamu kan lagi hamil kasihan dedek nya kalau kamu kecapean.” Fahril memberikan perhatian lebih kepada Humaira karna saat ini Humaira lagi hamil muda, sebenarnya waktu belum hamil pun Fahril juga perhatian tapi sekarang semakin lebih perhatian.

Sekarang Fahril sudah mencintai Humaira, perhatian yang di berikan Humaira kepada nya dan Alif membuat nya sadar bahwa dia tidak boleh menyia-nyiakan istrinya yang saat ini, walau di hati nya Fatimah masih bertahta, dia akan berusaha menghapus cinta nya pada mantan istri nya itu.

"Iya mas, aku akan panggil kamu jika butuh bantuan." Humaira merasa senang karna suami nya sudah mulai mencintai nya walau dia tau Fatimah masih menguasai hati suami nya, tapi dia tidak berkecil hati karna itu lah yang harus dia terima atas pernikahan nya ini dan dia yakin bahwa Allah akan memberikan jalan yang terbaik tuk dia dan keluarga kecil nya ini.

🌹🌹🌹

"Bang, ini mobil abang kok ganti lagi, perasaan yang kemaren bukan yang ini?" Fatimah bertanya karna mobil yang di bawah Ardhan yang pertama dengan yang ini  berbeda.

"Iya ini mobil abang, yang kemaren itu mobil nya papa, soalnya mobil abang kemaren lagi di bengkel jadi pinjam mobil papa.” Jelas Ardhan.

"Oh gitu, oh iya bang kita langsung ke tempat mas Fahril ya, soal nya aku udah rindu banget sama Alif." Fatimah berkata saat sudah berada di dalam mobil Ardhan.

"Iya, tadi juga abang sudah telpon Fahril kalau kita akan langsung ke sana habis pulang dari pesantren." Ardhan berbicara dengan bibir yang terus tersenyum manis.

"Ya Allah apa ini kenapa hati ku bergetar hanya dengan melihat senyuman bang Ardhan." Batin Fatimah bertanya-tanya dengan kondisi yang ada di dalam dada nya.

"Kok jadi bengong, terpesona dengan ketampanan abang ya." Ardhan berkata sambil menaik turun kan alis nya.

"Ih apa si bang, kok jadi lebai sih." Fatimah tertunduk malu akan sikap nya sendiri.

Ardhan hanya tersenyum melihat tingkat Fatimah yang malu-malu.

🌹🌹🌹
Mohon dukungannya
Jangan lupa komen, kritik dan saran
karna semua dukungan itu akan membuat saya lebih samangat lagi nulis nya dan saya akan berusaha menjadi lebih baik lagi dalam menulis.

Thanks all ☺

Semoga sehat selalu 😉

Rabu, 02 Juni 2021

Jodohku Milik Orang Bab.11 Persiapan

Happy reading all 😘

"Kau juga ukhti, jangan berlarut-larut dengan kesedihan, ku doa kan supaya Allah mengirim kan jodoh yang terbaik tuk mu" Fatma tersenyum sambil mengenggam tangan Fatimah

"Aamiin, aku sudah ikhlas kok atas takdir yang harus ku jalani" Fatimah tersenyum tulus

"Nah gitu dong, ini baru sahabat ku" Fatma

Dari cerita Fatimah dan Fatma, Abizar dapat menyimpulkan bahwa Fahril dan Fatimah sudah bercerai, tapi yang membuatnya binggung adalah kenapa mereka berpisah, karna setau Abizar, Fahril sangat lah mencintai Fatimah. Tapi lagi-lagi Abizar hanya diam tak ingin bertanya ataupun ikut campur.

"Ayo turun, kita sudah sampai" Ajak Abizar kepada ke dua wanita yang di hormati nya

Menurut Abizar, Fatimah dan Fatma adalah wanita yang patut tuk di hormati, sebab mereka berdua selalu menjaga harga diri mereka, selalu bersikap ramah, sopan santun,  dan yang insyaallah berhati mulia.

"Oh sudah sampai, ayo ukhti kita turun" Ajak Fatma sambil terus menggenggam tangan nya.

Fatimah hanya tersenyum, melihat tingkah sahabat nya itu.

Mereka sudah selesai melakukan fitting baju, dan akan melanjutkan perjalanan menuju tempat percetakan.

"Ukhti kalau undangan yang ini menurut mu gimana?" Tanya Fatma.

"Kenapa kau selalu menanyai ku, kenapa tidak meminta saran ke pada Abizar?!" Fatimah tersenyum melihat Fatma yang malu saat diri nya menyinggung tentang Abizar.

"Mas bagaimana menurut mu dengan kartu undangan yang ini, Fatma malu untuk menanyakannya pada mu, pilih lah salah satu?" Tanya Fatimah dan menyodorkan beberapa undangan yang ada di tangan nya.

Abizar memilih undangan yang berwarna abu-abu dengan aksesoris di bagian samping nya.

"Bagaimana kalau yang ini, simpele tapi tetap elegant" Abizar

"Ok juga tu, ya aku setuju sama pilihan kamu mas." Fatma tersenyum senang karna merasa tak salah memilih.

"Undangan sudah ya, jadi mau ke mana lagi ni, aku siap menemani kalian?" Tanya Fatimah sambil tersenyum telus menghadap sahabat nya.

"Berhubung sudah siang, kita cari makan dulu. Setelah itu kita mencari tempat buat shalat zuhur" Kata Abizar.

"Ayo kalo gitu." Fatma berjalan mendahului Abizar sambil terus menggandeng tangan Fatimah.

Abizar hanya tersenyum melihat indah nya persahabatan mereka. 

🌹🌹🌹
Fatimah dan Fatma sudah pulang dan sekarang sedang berada di taman belakang rumah Kiai.

"Ukhti makasih sudah nemenin kita, maaf sudah merepot kan ukhti" Kata Fatma.

"Sudah tidak perlu makasih, kita kan sahabat dan lagi pula aku tidak repot kok. Malahan aku senang bisa di butuhkan dan bisa bantu kamu walau cuma segini." Fatimah tersenyum tulus kapada Fatma.

"Kamu memang sahabat terbaik ku" Fatma berucap sambil memeluk Fatimah.

"Kamu juga sahabat terbaik ku" Fatimah malas pelukan Fatma.

Fatimah merenggang kan pelukan nya "Oh ya nanti acara nya akan di lakukan di mana?" Tanya Fatimah.

"Insyaallah semua acara nya akan di lakukan di pesantren" Jawab Fatma.

"Acaranya masih dua minggu lagi kan?" Tanya Fatimah lagi.

"Iya, memangnya ada apa ukhti?" Jawab Fatma dan sembari bertanya.

"Insyaallah rencananya besok aku mau pulang, karna bang Ardhan ingin ke sini jadi sekalian besok aku mau ikut pulang." Kata Fatimah.

"Kalo gitu titip undangan buat orang tua mu, arang tua angkat mu dan Mas Fahril ya." Fatma.

"Ok sahabat ku." Fatimah.

"Kapan bang Ardhan mau ke sini?" Tanya Fatma.

"Hari ini ukhti." Jawab Fatimah.

"Iya tau hari ini, tapi tepat nya itu kapan ukhti!!" Fatma merasa geram atas jawaban sahabat nya itu.

"Astaghfirullah tidak usah pakai ngegas ukhti." Fatimah tersenyum melihat tingkah laku sahabat nya itu.
"Insyaallah sore setelah ashar, karna bang Ardhan berangkat siang dari sana." Sambung Fatimah lagi.

"Ya maaf ukhti, habis nya kamu jawab nya gitu"  Fatma menjawab sambil mengerucutkan bibirnya.

"Kan ukhti juga nanya nya kayak gitu, jadi ku jawab seperlunya aja, bibir nya jangan kayak itu ah, tidak bagus anak perawan monyong gitu." Fatima tersenyum memandang sahabatnya yang lagi merajuk yang baginya sangat lucu.

"Monyong apa tu ukhti?" Fatma bertanya karna dia merasa baru pertama kali mendengar ucapan itu.

"Memang nya tidak tau monyong itu apa?" Tanya Fatimah dan Fatma hanya menggeleng menandakan dia tidak tau.

"Monyong itu ya kayak bibir kamu ini." Fatimah memberi tahu sambil mencubit ringan bibir sahabat nya itu.

"Akh sakit ukhti, kok gitu sih nanti bibir ku tidak perawan lagi loh." Kata Fatma sambil menggosok bibir nya.

"Mangkanya jagan suka merajuk, nanti tidak cantik lagi." Fatimah merasa senang bisa menjahili sahabatnya.ll

"Iya ya, tidak gitu lagi ukhti ku sayang." Kata Fatma Sambil memeluk Fatimah.

Fatimah membalas memeluk Fatma.

"Semoga persahabatan kita bisa sampai ke jannah nya Allah ya ukhti." Ucap Fatma karna dia merasa senang bisa mendapatkan sahabat yang sangat baik seperti Fatimah.

"Ammiin ukhti, semoga di ijabah oleh Allah." Jawab Fatimah.

"Iya ukhti, terimakasih sudah mau jadi sahabat ku, berbagi suka maupun duka dengan ku, terimakasih sudah mau menerima kelebihan dan kekurangan ku, selalu menasehati ku saat ku salah langkah, selalu mengingat kan ku untuk berserah diri hanya kepada Allah. Terimakasih atas semua nya, maaf ku perna tidak ada di saat titik terendah mu, maaf atas ketidak tahuan ku, maaf ukhti hiks hiks, maafin aku yang tak ada untuk mu saat itu hiks hiks" Fatma menangis sambil memeluk Fatimah.

"Tidak apa-apa ukhti ini sudah jadi jalan takdir ku, yang harus ku jalani dan ku terima dengan ikhlas, aku tidak menyalakan mu ukhti, karna saat itu kamu juga masih di Kairo, kita bersahabat bukan satu atau dua hari, tapi sudah bertahun-tahun jadi aku juga bisa memaklumi keadaan mu sahabat ku, sudah jangan sedih lagi kan mau nikah kok jadi sedih-sedihan gini nanti aura nya gelap loh." Goda Fatimah dan dia  tersenyum bahagia karna masih banyak orang yang peduli terhadap diri nya.

"Ih ukhti orang lagi sedih malah di candai, kan tidak jadi sedih lagi." Fatma melerai pelukan nya setelah mendengar kalimat terakhir yang di ucapan kan Fatimah.

"Udah ah, sudah waktu ashar ayo kita shalat dulu." Ajak Fatimah.

Fatma mengangguk tanda setuju atas ajakan Fatimah.

***
"Assalamu'alaikum Kiai, kaifa haluk? (Assalamu'alaikum Kiai, apa kabar?)" Tanya Ardhan.

"Walaikumsalam Ana Bikhoirin walhamdulillah (Walaikumsalam saya baik alhamdulillah)" Jawab Kiai Abdullah.

"Eh ada nak Ardhan, silahkan masuk nak!"  Ucap Ummi saat melihat Ardhan.

"Iya terimakasih ummi" Jawab Ardhan.

"Nak Ardhan sudah shalat apa belum?" Tanya Kiai Abdullah.

"Sudah Kiai, tadi di jalan saat mau ke sini" Jawab Ardhan.

"Mana yang lain Kiai, kenapa tidak kelihatan?"  Tanya Ardhan.

"Fatma dan Fatimah lagi di pesantren,sebentar lagi akan pulang.
Kata nya Fatimah ingin  pulang sama nak Ardhan besok, apa benar nak?" Tanya Kiai Abdullah.

"Iya Kiai, kata nya besok sekalian ingin mengantarkan undangan" Jelas Ardhan sopan.

"Nak Ardhan, maaf ya sebelum nya kalau perkataan saya kurang berkenan, tapi apa tidak sebaik nya nak Ardhan menikah saja sama Fatimah karna yang saya lihat nak Ardhan ini orang yang pantas untuk mendampingi Fatimah." Ucap Kiai Abdullah.

"Tidak apa-apa Kiai, sebenarnya saya sudah perna ingin berniat seperti itu, tapi sebelum saya menyampaikan niat saya Fatimah sudah menolak." Jawab Ardhan.

"Menolak gimana nak?" Tanya Kiai Abdullah bingung.

"Dia bilang tidak ingin terburu-buru dalam berumah tangga, karna mengingat kegagalannya yang pertama yang bisa di bilang membuat nya lebih berhati-hati dalam urusan berumah tangga, saya memaklumi itu karna setelah bercerai dia juga mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawa nya" Ardhan.

"Oh jadi begitu." Kiai Abdullah.

"Iya Kiai, saya juga yakin kalau kita berjodoh pasti akan di persatu kan bagaimanapun caranya." Jawab Ardhan mantan.

"Ya tetap yakin lah pada rencana Allah, karna skenario Allah lebih indah dan lebih baik daripada skenario kita." Kiai Abdullah tersenyum mendengar keyakinan Ardhan.

Di lain tempat dan waktu yang sama
Selesai mengajar, Fatimah dan Fatma melanjut kan pulang sambil berjalan santai dan di selingi dengan obrolan ringan.

"Ukhti gimana ya kalau udah nikah nanti, aku kok jadi gugup ya?" Tanya Fatma dan berbicara dengan wajah yang binggung.

"Tidak usah di tanya, nanti juga akan bisa sendiri secara alami" Jawab Fatimah dengan santai nya.

"Ih kok jawab nya gitu sih, aku tu serius ukhti, aku tu gugup banget, aku ragu jangan-jangan aku belum siap lagi dan gimana kalau banyak tamu yang tidak datang, bagaimana kalau mas Abizar salah sebut nama, aduh bagaimana ini." Fatma berbicara sambil memegang kepala nya.

"Ini ni yang di sebut ketakutan yang berlebih. Udah tenang aja ya, aku yakin kamu pasti sanggup kok, soal gugup itu wajar karna hampir seluruh calon pengantin mengalami kegugupan, tapi ingat apa yang telah di gariskan oleh Allah itu pasti akan terjadi, kita hanya bisa berusaha dan meminta yang terbaik, apapun hasil nya nanti itulah yang terbaik dari Allah." Fatimah menenangkan Fatma dan terus mengelus punggung sahabat nya.

🌹🌹🌹

Makasih man teman udah mampir 😘

Sehat selalu all 😍😘

Minggu, 30 Mei 2021

Jodohku Milik Orang Bab.10 Matahari Terbit

Happy Reading All 😘
🌹🌹🌹

📱“Assalamu'alaikum Bu, ada apa bu?” Fatimah. 

📲 “Waalaikumsalam nak, ibu kangen sama kamu nak, kapan kau pulang ke sini sayang?” Ibu. 

📱“Fatimah juga kangen sama Ibu, InsyaAllah lusa Fatimah pulang ke sana Bu.” Fatimah. 

📲 “Kau apa kabar sayang?” Ibu. 

📱“Alhamdulillah baik Bu, Ibu gimana kabarnya dan semua keluarga di sana?”

📲 “Alhamdulillah semua yang ada di sini sehat semua, oh iya jangan lupa jaga diri, jaga kesehatan dan jangan sampai telat makan, Ibu tidak mau kamu jadi sakit dan jangan lupa jika ada masalah berserah diri lah kepada Allah sang pemilik kehidupan.” Ibu. 

📱“Iya Ibu ku tersayang.” Fatimah tersenyum mendengar perhatian Ibu nya masih sama seperti dulu tak pernah berubah sampai saat ini. 

📲 “Sudah dulu ya nak, Ibu hanya ingin tau kabar mu dan mengingatkan mu tuk jaga kesehatan dan jangan pernah lalai dalam hal agama.” Ibu. 

📲 “Assalamu'alaikum, cepatlah istirahat ya sayang.” Ibu. 

📱“Waalaikumsalam, iya Ibu ku sayang" Fatimah dan Ibu nya mengakhiri sambungan telepon nya. 

Setelah  memutuskan sambungan telepon dengan ibunya, HP Fatimah kembali berbunyi.

“Siap lagi yang menelpon ku?!
Mas Fahril ada apa ya?” Fatimah bertanya pada diri sendiri.

📱“Assalamu'alaikum mas.” Fatimah.

📲 “Waalaikumsalam” Fahril.

📱“Ada apa mas, apa ada masalah sama Alif?” Fatimah nampak khawatir karna tiba-tiba Fahril menghubungi nya.

📲 “Tidak ada Alif sehat kok, Alif cuma mau dengar suara kamu, kata nya rindu sama ammi nya!” Fahril menjelaskan karna terdengar kekhawatiran di suara Fatimah.

📱“Oh, mana Alif mas?” Fatimah lega karna tak ada yang perlu dia khawatir kan.

📲 “Assalamu'alaikum ammi, Alif lindu ammi, ammi kapan jeguk Alif, Alif pengen main sama ammi, ammi gak lindu sama Alif ya?” Alif bertanya tanpa henti tak memberikan kesempatan untuk Fatimah menjawab.

Fatimah hanya tersenyum mendengar celotehan polos dari anak nya

📱“Wa'alaikumussalam sayang, kapan lagi ammi mau jawab, kalau Alif tanya terus!?” Ucap Fatimah masih dengan senyuman nya.

📲 “Maaf ammi, tapi Alif benal-benal kangen ammi.” Jawab Alif lirih.

Fatimah yang mendengar nya langsung meneteskan air mata, sesungguhnya Fatimah juga sangat rindu pada anak nya tersebut, tapi tak mungkin bagi nya untuk terus datang ke rumah Fahril, jika Alif bersama nya juga akan sering di tinggal karna dengan kesibukan nya yang sekarang tak mungkin untuk menjaga Alif.

📱“Maafkan ammi ya sayang, ammi janji insyallah ammi secepatnya akan mengajak Alif bermain dan pergi jalan-jalan, Alif jangan sedih ya sayang, kan ada ummi sama ayah!” Fatimah merasa sedih karna perceraian nya berimbas pada anak nya, tapi dia bersyukur karna Alif memiliki ummi yang sangat baik.

📲 “Iya ammi, tapi janji ya anti alan-alan dan main sama Alif, ammi agan boong ya.” Alif kembali ceria lagi setelah mendengar bujukan dari ammi nya.

📱“Iya sayang, ammi janji, tapi Alif Jagan jadi anak yang nakal, jadi lah anak yang shaleh, berbakti sama ayah, ammi dan ummi ya sayang!” Fatimah.

📲 “Ok, siap ammi.” Alif.

📱“Mana ayah, ammi mau bicara sama ayah, kasi HP nya sama ayah sayang.” Perintah Fatimah kepada Alif.

📲 “Ya ada apa Fatimah?” Fahril.

📱“Mas, maaf sudah beberapa minggu ini aku belum jenguk Alif dan sekarang aku ada di pesantren Kiai Abdullah, aku jadi pengajar sekaligus ingin memperdalam ilmu, maaf untuk sementara aku belum bisa jenguk Alif.” Fatimah.

📲 “Ya tidak apa-apa, InsyaAllah Alif akan ngerti kok, kapan kamu ke pesantren Kiai Abdullah?” Fahril.

📱“Sudah hampir dua minggu mas, sudah dulu ya mas, titip salam buat Humaira.
Assalamu'alaikum.” Fatimah mengakhiri pangilan setelah Fahril menjawab salam nya.

📲 “Ya nanti ku sampai kan, Waalaikumsalam.” Fahril.

***
Fatimah masih terjaga walau malam telah larut. 
*Entah apa yang membuat nya tak bisa tidur author pun tak tau😁*

Fatimah membaringkan tubuh nya di atas tempat tidur nya dan perlahan dia menutup mata nya sampai akhirnya dia pun tertidur.

Waktu subuh menjelang Fatimah telah siap untuk shalat berjamaah di musholah khusus santriwati.

Dalam perjalanan dia bertemu dengan Fatma.

“Assalamu'alaikum ukhti!” Fatma menyapa.

“Waalaikumsalam ukhti.” Fatimah membalas menyapa.

“Shalat ke musholah juga?” Tanya Fatimah.

“Iya.” Jawab Fatma singkat.

Selesai shalat subuh berjamaah, berhubung hari ini hari jumat dan pesantren libur jadi Fatimah dan Fatma pergi ke bukit di belakang pesantren untuk melihat matahari terbit dan menghirup udara yang masih sangat segar.

“Ukhti dulu kita sering ke sini, saat hari Jum'at seperti ini tuk menyaksikan betapa indahnya ciptaan Sang Maha Pencipta.” Fatma tersenyum mengenang hari-hari yang pernah dia lalui bersama Fatimah.

“Iya ukhti, dulu kita sering ke sini, untuk sekedar lari pagi atau pun untuk melihat matahari terbit dan menghirup udara segar di pagi hari.” Fatimah tersenyum sangat manis di depan sahabat nya.

“Oh ya, ukhti gimana persiapan pernikahan mu, apa yang bisa aku bantu?” Fatimah bertanya dengan antusias karna mengingat ini adalah pernikahan sahabat terbaik nya.

“Nanti temanin kami fitting baju ya ukhti,  karna hari ini rencana nya mau ke butik untuk fitting baju pengantin.” Pinta Fatma kepada Fatimah.

"حسنا صديقي" ( Ok sahabat ku)” Jawab Fatimah

“Kita sudah sampai di atas bukit, masyaAllah indah nya, kita datang tepat waktu ukhti.” Ucap Fatma girang.

Fatimah hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi sahabat nya yang sudah menarik tangan nya untuk duduk menikmati matahari terbit.

“Sungguh indah kuasa mu ya Allah, ku harap hidup ku akan seperti mentari yang bisa menyinari dan memberi kehangatan untuk orang lain tapi tetap dengan cara yang telah kau tentukan.” Fatimah berkata di dalam hati sambil tersenyum tulus dan pandangan lurus ke depan.

“Ukhti tolong doa kan aku, supaya pernikahan ini menjadi yang pertama sekaligus yang terakhir dalam hidup ku, dan semoga kami berjodoh dunia maupun akhirat. Aamiin.” Pinta Fatma sambil terus memandangi matahari terbit dan sesekali melirik Fatimah.

“Aamiin, semoga apa yang kau ingin kan, kan di ijabah oleh Allah SWT.” Balas Fatimah tulus.

"امين امين امين يا رب" Fatma mengucap Aamiin sambil mengangkat ke dua tangan nya ke atas"

***
“Assalamu'alaikum.” Fatimah.

“Walaikumsalam, ukhti sudah datang, ayo kita langsung saja berangkat.” Ajak Fatma.

Dalam perjalanan Fatimah dan Fatma tak berhenti bicara, mereka berdua duduk di bangku penumpang, sedang kan Abizar duduk di belakang setir mobil dan fokus terhadap jalanan.

“Ukhti nanti sekalian kau juga fitting baju ya, dan aku titip undangan untuk mas Fahri dan istri nya ya.” Pinta Fatma.

Abizar terkejut saat mendengar bahwa Fahril mempunyai istri yang lain, tapi walau penasaran dia tetap diam dan memilih tak bertanya.

“Iya nanti akan ku sampai kan.” Fatimah tersenyum melihat sahabat nya yang sedang bahagia.

“Kau juga ukhti, jangan berlarut-larut dengan kesedihan, ku doa kan supaya Allah mengirim kan jodoh yang terbaik tuk mu.” Fatma tersenyum sambil mengenggam tangan Fatimah.

“Aamiin, aku sudah ikhlas kok atas takdir yang harus ku jalani.” Fatimah tersenyum tulus

“Na gitu dong, ini baru sahabat ku.”  Saut Fatma sambil tersenyum.

🌹🌹🌹

Mau tau kelanjutannya? 

Mau tau gimana akhir dari penantian Fatimah?

Pantengin terus ya novel “Jodohku Milik Orang” Suapaya tau kelanjutannya!!...

Thanks all 🙏

Semoga sehat selalu 😉

Jumat, 28 Mei 2021

Jodohku Milik Oleh Bab.9 Kabar Bahagia

Di sepertiga malam, Fatimah terbangun dan melakukan shalat malam. 

Setelah menjalankan shalat malam Fatimah berdo'a pada sang pemilik kehidupan. 

“Ya Allah kirim kan lah hamba jodoh yang terbaik tuk hamba, jika jauh makan dekat kan lah, jika dekat maka persatukan lah, ampun kan lah dosa-dosa hamba baik yang besar ataupun yang kecil, baik di sengaja atau tak di sengaja.” 

“Jaga lah iman hamba supaya selalu berserah diri hanya ke pada mu, jadi kan lah hamba seorang ibu, seorang anak dan seorang wanita yang belajar tuk selalu bersabar dalam menjalani kehidupan ini dan jadikan hamba seorang ibu, seorang anak dan seorang wanita yang belajar tuk selalu Istiqomah berada di jalan yang Engkau ridhoi. Aamiin. 

Setelah itu Fatimah membaca Al-Quran sembari menunggu waktu subuh. 

***
“Assalamu'alaikum, bang Ardhan.” Fatimah bingung karena melihat Ardhan sudah rapi beserta tas ransel yang di bawah nya kemarin.

“Waalaikumsalam.” Jawab mereka serempak saat melihat Fatimah. 

Karena saat ini Fatimah datang ke rumah Kiai Abdullah. 

“Bang Ardhan mau pulang?” Tanya Fatimah. 

“Iya abang mau pulang dulu, InsyaAllah dua minggu lagi abang akan datang lagi.” Ucap Ardhan memberi tahu. 

“Mau pulang sekarang bang?
Ayo Fatimah antar sampai gerbang!
Ukhti ayo temenin aku ke depan.” Fatimah mengajak Fatma karna dia tidak ingin timbul fitnah di antara mereka dari para pengajar dan para santri. 

“Na'am ukhti” Jawab Fatma. 

***
“Sudah sampai di sini saja syukran Fatimah dan Fatma sudah mengantarkan abang sampai ke pintu gerbang.” Ucap Ardhan. 

“Afwan bang.” Jawab mereka bersamaan. 

“Fii amanillah (semoga engkau dalam lindungan Allah)” Ucap Fatimah. 

“Ma'assalamah (semoga keselamatan menyertaimu).” Ucap Ardhan sembari tersenyum tulus kepada Fatimah. 

Setelah kepergian Ardhan Fatimah dan Fatma kembali ke dalam pesantren, Fatma mengajak Fatimah ke halaman belakang rumah nya.

“Ayo kita ke halaman belakang rumah ku, aku mau cerita sama kamu.” Fatma menarik tangan Fatimah supaya mengikuti nya. 

“Mau cerita apa ukhti?” Tanya Fatimah. 

“تعال من فضلك أجلس أختي ”
“(Ayo silahkan duduk saudari ku).” Ucap Fatma. 

“ شكرا سأجلس”
“(terimakasih aku akan duduk).” Jawab Fatimah. 

“Gimana kehidupan yang mau ukhti jalani nanti?” Tanya Fatma pada Fatimah. 

“Aku tak tau, Wallahu a'lam' ('Allah-lah yang Maha Tahu'), tapi yang pasti aku akan mengikuti jalan yang di tunjukan Allah.” Jawab Fatimah. 

“Oh ya ukhti sebentar lagi aku akan menikah, aku sudah di khitbah oleh seorang laki-laki yang insyaallah shaleh.” Ujar Fatma. 

“Alhamdulillah, mabruk 'ukhti (selamat ya saudari ku).” Fatimah memeluk Fatma karna turut merasakan kebahagiaan nya. 

“Syukran ukhti.” Fatma membalas pelukan Fatimah. 

“Smoga slalu di ridhoi Allah, InsyaAllah tidak seperti diri ku, yang berawal dari perjodohan juga dan berakhir dengan perceraian, jangan sampai ukhti mengalami nya, memang bercerai tak di larang, tapi perceraian sangat di benci oleh Allah, walaupun aku mengetahuinya tetap saja tak bisa ku hindari.” Fatimah berkata dengan lirih karna mengingat kejadian yang telah menjadi masa lalu hidup nya. 

“InsyaAllah, sudah ah jangan sedih-sedih lagi ya, InsyaAllah ini jalan terbaik dari Allah, aamiin.” Fatma berusaha menenangkan hati Fatimah yang pernah terluka. 

“Aamiin.” Fatimah. 

“Oh ya kapan pernikahan mu dan siapa lelaki yang telah berani meminta mu dari Kiai.” Goda Fatimah sambil tersenyum. 

Fatma hanya tersenyum malu, walau malu malu, tapi tetap Fatma bercerita pada Fatimah, Fatma membagi kebahagiaan nya bersama Fatimah. Dia berharap Fatimah tidak kan berlarut-larut atas kesedihan nya dan akan sedikit terhibur atas kebahagiaan nya.

“Laki-laki itu ukhti sudah kenal kok, kita sama-sama saling kenal dan berteman cukup baik sewaktu masih jadi santri di sini.” Fatma berkata malu-malu. 

“Aku juga kenal? Siapa, apa jangan-jangan laki-laki yang selalu bersama mas Fahri tempo dulu?!” Fatimah terkejut sekaligus senang, karna dia yakin Fatma akan bahagia bersama sahabat mantan suami nya itu. 

“Iya dia sahabat mas Fahril, yang dulu sangat terkenal akan kelembutannya, tapi tetap akan bersikap tegas dalam hal menjauhi wanita yang terang-terangan menginginkan nya.” Fatma sangat bangga dengan sikap calonnya yang sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat seorang wanita. 


"مرة أخرى مبروك يا أخي ، أنا سعيد أيضا ، أخيرًا تزوجك رجل"
“(sekali lagi selamat ya ukhti,aku turut bahagia, akhirnya ada lelaki yang mempersunting mu).” Fatimah sangat bahagia mendengar kabar dari sahabatnya itu. 

“نعم ، أبيدزار محظوظ جدًا لكوني زوجته”
“(ya, Abizar sangat beruntung mendapat kan aku sebagai istrinya).” Fatma menjawab sambil mengulas senyum bahagia. 

"ما هي خطط زفافك يا أوختي"
“(Kapan rencana pernikahan mu ya ukhti).”

"InsyaAllah الشهر المقبل"
“(InsyaAllah, bulan depan).” Jawab Fatma malu-malu. 

"أتمنى أن تسير الأمور على ما يرام حتى يومنا هذا"
“(semoga lancar sampai hari h).” Ucap Fatimah sambil mengenggam tangan Fatma dan tersenyum tulus. 

“ امين ” (Aamiin).” Jawab Fatma. 

***
Fatimah kembali sendirian di dalam kamar, dia merenungkan hal menurut nya mustahil, tapi kalau Allah berkehendak maka akan terjadi juga. 

“Apa benar hal yang ku lihat waktu koma akan terjadi, kalau memang terjadi dalam waktu dekat ini bang Ardhan akan pergi ke luar negri, tapi kenapa jalan yang harus aku pilih tidak terlihat, aku cuma bisa melihat jalan untuk orang-orang terdekat ku saja, sudahlah lebih baik aku istirahat dulu memikirkan ini semua membuat ku pusing.” Gumam Fatimah. 

Saat petang menjelang, sinar jingga mulai menghiasi langit, biru langit telah berganti dengan keindahan yang tiada tara yang di hadirkan oleh Sang Pencipta.

Setelah shalat magrib berjamaah di musola khusus santriwati, Fatimah melanjutkan dengan kegiatan membaca Barzanji bersama santriwati.

***
Fatimah merebahkan tubuh nya di atas tempat tidur, tiba-tiba terdengar suara handphone nya berdering. 

*Nada dering*
Roqqot 'aina ya syawqon
Wa li thoybata tarofat isyqon
Fa ataytu illa habibi
Fahda ya qolbun warifqon
Sholli 'ala Muhammad *

“Siapa yang menelpon ku?” Fatimah bertanya pada diri nya sendiri. 

“Oh ternyata ibu yang menelpon ku.” Lalu Fatimah menggeser icon hijau di layar HP nya. 

📱“Assalamu'alaikum Bu, ada apa bu?” Fatimah. 

📲 “Waalaikumsalam nak, ibu kangen sama kamu nak, kapan kau pulang ke sini sayang?”  Ibu. 

📱“Fatimah juga kangen sama Ibu, InsyaAllah lusa Fatimah pulang ke sana Bu.” Fatimah. 

📲 “Kau apa kabar sayang?” Ibu. 

📱“Alhamdulillah baik Bu, Ibu gimana kabarnya dan semua keluarga di sana?”

📲 “Alhamdulillah semua yang ada di sini sehat semua, oh iya jangan lupa jaga diri, jaga kesehatan dan jangan sampai telat makan, Ibu tidak mau kamu jadi sakit dan jangan lupa jika ada masalah berserah diri lah kepada Allah sang pemilik kehidupan.” Ibu. 

📱“Iya Ibu ku tersayang.” Fatimah tersenyum mendengar perhatian Ibu nya masih sama seperti dulu tak pernah berubah sampai saat ini. 

📲 “Sudah dulu ya nak, Ibu hanya ingin tau kabar mu dan mengingatkan mu tuk jaga kesehatan dan jangan pernah lalai dalam hal agama.” Ibu. 

📲 “Assalamu'alaikum, cepatlah istirahat ya sayang.” Ibu. 

📱“Waalaikumsalam, iya Ibu ku sayang" Fatimah dan Ibu nya mengakhiri sambungan telepon nya.